Maklumat

Bismillaahirrahmaanirrahiim. Assalaamu'alaikum Wr. Wb.

Sekedar informasi bahwa blog ini kami buat sebagai sarana penunjang proses belajar mengajar tahfizh di rumah tahfizh Ats Tsaani sekaligus media informasi dan perekat hubungan kami dengan seluruh santri pada khususnya dan ummat Islam pada umumnya. Seluruh artikel yang ada dimaksudkan untuk berbagi ilmu sehingga diperbolehkan untuk copas asal menyebutkan sumbernya dan tidak untuk komersial. Harap maklum. Wassalaamu'alaikum Wr.Wb.

Jumat, 31 Januari 2014

ADAB MEMBACA AL QUR'AN

ADAB MEMBACA AL QUR'AN


Beberapa adab membaca al Qur’an adalah :
1)       Berpenampilan bersih dan rapi.
2)       Menggosok gigi dan berwudhu terlebih dahulu.
3)       Mengambil atau membawa al Qur’an dengan tangan kanan.
4)       Memuliakan mushaf.
5)       Membaca di tempat yang bersih dan suci serta menghadap Qiblat.
6)       Sebelum membaca al Qur’an hendaklah membaca ta’awudz dan basmalah terlebih dahulu.
7)       Membaca dengan tartil atau bertajwid. (Qs. Al Muzzammil ayat 4).
8)       Membaca dengan memahami artinya dan disertai tadabbur.
9)       Dengan suara yang bagus lagi merdu.
10)   Konsentrasi
11)   Tidak melalaikan bacaan

12)   Ketika membaca al Qur’an janganlah diputuskan hanya karena hendak berbicara dengan orang lain. Hendaknya pembacaan diteruskan sampai ke batas yang telah ditentukan barulah berb icara dengan orang lain.

Sabtu, 25 Januari 2014

Adab-adab dalam Bertalaqqi/Belajar Al-Qur’an

Adab-adab dalam Bertalaqqi/Belajar Al-Qur’an



Adab-adab dalam bertalaqqi/belajar Al-Qur’an  menurut  Imam An-Nawawi dalam At Tibyan fi Hamalatil Qur’an adalah:

1. Dalam kegiatan belajar mengajar Al-Qur’an, baik guru maupun murid harus memiliki keikhlasan yang penuh, hanya mengharapkan keridhaan Allah semata. Allah berfirman:

وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
Dan tiadalah mereka diperintahkan kecuali agar mereka beribadah kepada Allah, ikhlash karenanya dalam menjalankan agama…” (QS. Al-Bayyinah: 5)

Rasulullah bersabda:
“Semata-mata perbuatan itu tergantung pada niatnya, dan bagi setiap orang apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ibnu Abbas berkata:
Semata-mata seorang itu akan terjaga sesuai dengan ukuran niatnya.”

Fudhail bin ‘Iyadh berkata:
“Meninggalkan suatu perbuatan karena manusia adalah perbuatan riya’. Melakukan sesuatu karena manusia adalah syirik. Sedangkan ikhlash adalah tatkala Allah menjaga anda dari dua penyakit di atas.

2. Guru dan murid tidak boleh menjadikan talaqqi Al-Qur’an sebagai sarana untuk mengharapkan atau mendambakan dunia, sehingga jika kegiatan tersebut tidak menjanjikan materi,  ia enggan melakukannya.

3. Seorang guru harus amanah dalam mengajarkan Al-Qur’an kepada muridnya, jangan sampai ia membiarkan muridnya melakukan kesalahan. Karena dikhawatirkan suatu saat ia akan mengajarkan muridnya dalam keadaan salah.

4. Seorang guru tidak boleh mendambakan semua orang belajar kepadanya dan tidak belajar kepada guru yang lain. Hindarilah rasa benci dan kesal jika mendapatkan murid yang belajar kepada guru yang lain. Penyakit ini banyak menimpa para guru yang jahil. Ini suatu bukti bahwa niat mengajarnya salah dan tidak karena Allah subhanahu wa ta’ala. Seharusnya ia mengatakan,  “Aku mengajar dengan tujuan ibadah, dan ini telah aku dapatkan. Jika ada muridku pindah belajar kepada guru yang lain, maka ia akan mendapatkan tambahan ilmu. Semoga ilmunya menjadi ilmu yang bermanfaat.”

Inilah teladan dari Imam Syafi’i yang pernah berkata,
Aku ingin orang yang telah mempelajari ilmu (yang telah aku ajarkan) ini tidak menganggap ilmu tersebut didapat dariku, walaupun hanya satu huruf.”

5. Guru dan murid harus berakhlaq mulia, sabar tawadhu’, tidak banyak bercanda dan berisik, tidak hasud dan ‘ujub (berbangga diri), serta banyak mengamalkan amalan sunnah, berdzikir, bertasbih, berdo’a, dan muraqabatullah (selalu merasa diawasi oleh Allah).

6. Seorang guru harus bersikap lemah lembut kepada muridnya, menyambutnya dan berbuat baik kepadanya. Rasulullah bersabda kepada para sahabatnya:
Sesungguhnya masyarakat itu adalah pengikut kalian  dan sesungguhnya terdapat orang-orang yang akan mendatangi kalian dari pelosok negeri untuk mendalami ilmu agama. Apabila mereka datang kepada kalian perlakukanlah dengan baik.”  (H.R. Tirmidzi)

7. Seorang guru harus banyak memberi nasehat dan motivasi kepada muridnya. Rasulullah bersabda kepada para sahabatnya:

“Agama itu nasehat.” “Bagi siapa ya Rasul?” Beliau menjawab, “Bagi Allah, Kitabnya, Rasulnya, para imam muslim dan kaum muslimin pada umumnya.”   (H.R. Muslim)

Yang dimaksud dengan nasehat bagi Allah adalah meyakini ke-Maha Tunggal-an Allah dan ikhlas dalam beribadah kepadanya. Nasehat bagi kitabnya adalah dengan mengamalkan isinya. Nasehat bagi Rasul-Nya yakni mengikuti perintah dan menjauhi larangannya. Nasehat bagi imam muslim dan kaum muslimin pada umumnya yaitu dengan mengarahkan mereka kepada jalan yang benar.

8. Seorang guru tidak boleh merasa besar di hadapan muridnya, melainkan harus lemah lembut, hormat dan tidak merendahkan mereka. Rasulullah bersabda:

Bersikap lemah lembut kepada orang yang kamu ajari dan orang yang sedang belajar darinya.” (HR. Ibnu Suni)

9. Seorang murid harus hormat kepada guru, betapapun ia melihat kekurangan gurunya. Ali bin Abi Thalib berkata:
“Aku bagaikan hamba sahaya bagi orang telah mengajariku walaupun satu huruf.”

Jangan pernah menceritakan ketidakpuasan terhadap gurungnya kepada orang lain. Hal tersebut adalah ghibah, apalagi dilakukan terhadap gurunya. Sungguh, perbuatan ini menjadikan ilmu tidak bermanfaat. Rasulullah bersabda:

“Ya Allah, aku berlindung diri kepadamu dari ilmu yang tidak bermanfaat.”

10. Seorang murid harus sabr menghadapi sikap keras gurunya, karena boleh jadi ketika marah tersebut gurunya sedang lelah atau memikirkan suatu masalah. Berpikirlah positif, bahwa seorang guru tidak mungkin benci kepada muridnya. Jadi, murid harus siap seakan-akan hina di depan gurunya. Ibnu Abbas berkata:

“Dulu aku hina ketika mencari (menjadi murid), kini aku mulia setelah dicari (menjadi guru).”

Seorang penyair berkata:


“Seseorang yang tidak pernah merasakan kehinaan sesaat (menuntut ilmu) akan hina sepanjang masa.”

Minggu, 19 Januari 2014

Kisah Nyata Keajaiban-keajaiban di Jalur Gaza Palestina

Kisah Nyata Keajaiban-keajaiban di Jalur Gaza Palestina




Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ...

Gaza, itulah nama hamparan tanah yang luasnya tidak lebih dari 360 km
persegi. Berada di Palestina Selatan, “terjepit” di antara tanah yang dikuasai penjajah Zionis Israel, Mesir, dan laut Mediterania, serta dikepung dengan tembok di sepanjang daratannya.

Sudah lama Israel “bernafsu” menguasai wilayah ini. Namun, jangankan menguasai, untuk bisa masuk ke dalamnya saja Israel sangat kesulitan.

Sudah banyak cara yang mereka lakukan untuk menundukkan kota kecil ini. Blokade rapat yang membuat rakyat Gaza kesulitan memperoleh bahan makanan, obat-obatan, dan energi, telah dilakukan sejak 2006 hingga kini. Namun, penduduk Gaza tetap bertahan, bahkan perlawanan Gaza atas penjajahan Zionis semakin menguat.

Akhirnya Israel melakukan serangan “habis-habisan” ke wilayah ini sejak 27 Desember 2008 hingga 18 Januari 2009. Mereka “mengguyurkan” ratusan ton bom dan mengerahkan semua kekuatan hingga pasukan cadangannya.

Namun, sekali lagi, negara yang tergolong memiliki militer terkuat di dunia ini harus mundur dari Gaza.

Di atas kertas, kemampuan senjata AK 47, roket anti tank RPG, ranjau, serta beberapa jenis roket buatan lokal yang biasa dipakai para mujahidin Palestina, tidak akan mampu menghadapi pasukan Israel yang didukung tank Merkava yang dikenal terhebat di dunia. Apalagi menghadapi pesawat tempur canggih F-16, heli tempur Apache, serta ribuan ton “bom canggih” buatan Amerika Serikat.

Akan tetapi di sana ada “kekuatan lain” yang membuat para mujahidin mampu membuat “kaum penjajah” itu hengkang dari Gaza dengan muka tertunduk, walau hanya dengan berbekal senjata-senjata kuno.

Itulah pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang diberikan kepada para pejuangnya yang taat dan ikhlas. Kisah tentang munculnya “pasukan lain” yang ikut bertempur bersama para mujahidin, semerbak harum jasad para syuhada, serta beberapa “peristiwa aneh” lainnya selama pertempuran, telah beredar di kalangan masyarakat Gaza, ditulis para jurnalis, bahkan disiarkan para khatib Palestina di khutbah-khutbah Jumat mereka.

Berikut ini adalah rangkuman “kisah-kisah ajaib” tersebut dari berbagai sumber untuk kita ingat dan renungkan.

Pasukan “Berseragam Putih” di Gaza ... 

Ada “pasukan lain” membantu para mujahidin Palestina. Pasukan Israel sendiri mengakui adanya pasukan berseragam putih itu.

Suatu hari di penghujung Januari 2009, sebuah rumah milik keluarga Dardunah yang berada di antara Jabal Al Kasyif dan Jabal Ar Rais, tepatnya di jalan Al Qaram, didatangi oleh sekelompok pasukan Israel.

Seluruh anggota keluarga diperintahkan duduk di sebuah ruangan. Salah satu anak laki-laki diinterogasi mengenai ciri-ciri para pejuang al-Qassam.

Saat diinterogasi, sebagaimana ditulis situs Filisthin Al Aan (25/1/2009), mengutip cerita seorang mujahidin al-Qassam, laki-laki itu menjawab dengan jujur bahwa para pejuang al-Qassam mengenakan baju hitam-hitam. Akan tetapi tentara itu malah marah dan memukulnya hingga laki-laki malang itu pingsan.

Selama tiga hari berturut-turut, setiap ditanya, laki-laki itu menjawab bahwa para pejuang al-Qassam memakai seragam hitam. Akhirnya, tentara itu naik pitam dan mengatakan dengan keras, “Wahai pembohong! Mereka itu berseragam putih!”

Cerita lain yang disampaikan penduduk Palestina di situs milik Brigade Izzuddin al-Qassam, Multaqa al-Qasami, juga menyebutkan adanya “pasukan lain” yang tidak dikenal. Awalnya, sebuah ambulan dihentikan oleh sekelompok pasukan Israel. Sopirnya ditanya apakah dia berasal dari kelompok Hamas atau Fatah? Sopir malang itu menjawab, “Saya bukan kelompok mana-mana. Saya cuma sopir ambulan.”

Akan tetapi tentara Israel itu masih bertanya,

“Pasukan yang berpakaian putih-putih dibelakangmu tadi, masuk kelompok mana?”

Si sopir pun kebingungan, karena ia tidak melihat seorangpun yang berada di belakangnya. “Saya tidak tahu,” jawaban satu-satunya yang ia miliki.

Cerita mengenai “pasukan tidak dikenal” juga datang dari seorang penduduk rumah susun wilayah Tal Islam yang handak mengungsi bersama keluarganya untuk menyelamatkan diri dari serangan Israel.

Di tangga rumah ia melihat beberapa pejuang menangis.” Kenapa kalian menangis?” tanyanya.

“Kami menangis bukan karena khawatir keadaan diri kami atau takut dari musuh. Kami menangis karena bukan kami yang bertempur. Di sana ada kelompok lain yang bertempur memporak-porandakan musuh, dan kami tidak tahu dari mana mereka datang,” jawabnya.

Saksi Serdadu Israel ... 

Cerita tentang “serdadu berseragam putih” tak hanya diungkap oleh mujahidin Palestina atau warga Gaza. Beberapa personel pasukan Israel sendiri menyatakan hal serupa.

Situs al-Qassam memberitakan bahwa TV Channel 10 milik Israel telah menyiarkan seorang anggota pasukan yang ikut serta dalam pertempuran Gaza dan kembali dalam keadaan buta.

“Ketika saya berada di Gaza, seorang tentara berpakaian putih mendatangi saya dan menaburkan pasir di mata saya, hingga saat itu juga saya buta,” kata anggota pasukan ini.

Di tempat lain ada serdadu Israel yang mengatakan mereka pernah berhadapan dengan “hantu”. Mereka tidak diketahui dari mana asalnya, kapan munculnya, dan ke mana menghilangnya.

Masih dari Channel 10, seorang tentara Israel lainnya mengatakan,

“Kami berhadapan dengan pasukan berbaju putih-putih dengan jenggot panjang. Kami tembak dengan senjata, akan tetapi mereka tidak mati.”

Cerita ini menggelitik banyak pemirsa. Mereka bertanya kepada Channel 10, siapa sebenarnya pasukan berseragam putih itu?

Apakah pasukan berbaju putih itu adalah MALAIKAT bantuan Allah, sebagaimana Allah telah membantu dalam perang Badar dalam Al-Qur’an?

“(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: "Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut". (QS. 8 : 9)

Suara Tak Bersumber ... 

Ada lagi kisah karamah mujahidin yang kali ini disebutkan oleh khatib masjid Izzuddin Al Qassam di wilayah Nashirat Gaza yang telah ditayangkan oleh TV channel Al Quds, yang juga ditulis oleh Dr Aburrahman Al Jamal di situs Al Qassam dengan judul Ayaat Ar Rahman fi Jihad Al Furqan (Ayat-ayat Allah dalam Jihad Al Furqan).

Sang khatib bercerita, seorang pejuang telah menanam sebuah ranjau yang telah disiapkan untuk menyambut pasukan Zionis yang melalui jalan tersebut.

“Saya telah menanam sebuah ranjau. Saya kemudian melihat sebuah helikopter menurunkan sejumlah besar pasukan disertai tank-tank yang beriringan menuju jalan tempat saya menanam ranjau,” kata pejuang tadi.

Akhirnya, sang pejuang memutuskan untuk kembali ke markas karena mengira ranjau itu tidak akan bekerja optimal. Maklum, jumlah musuh amat banyak.

Akan tetapi, sebelum beranjak meninggalkan lokasi, pejuang itu mendengar suara “Utsbut, tsabatkallah” yang maknanya kurang lebih, “tetaplah di tempat maka Allah menguatkanmu.” Ucapan itu ia dengar berulang-ulang sebanyak tiga kali.

“Saya mencari sekeliling untuk mengetahui siapa yang mengatakan hal itu kapada saya. Akan tetapi saya malah terkejut, karena tidak ada seorang pun yang bersama saya,” ucap mujahidin itu, sebagaimana ditirukan sang khatib.

Akhirnya sang mujahid memutuskan untuk tetap berada di lokasi. Ketika sebuah tank melewati ranjau yang tertanam, sesuatu yang “ajaib” terjadi. Ranjau itu justru meledak amat dahsyat. Tank yang berada di dekatnya langsung hancur. Banyak serdadu Israel meninggal seketika. Sebagian dari mereka harus diangkut oleh helikopter. “Sedangkan saya sendiri dalam keadaan selamat,” kata mujahid itu lagi, melalui lidah khatib.

Cerita yang disampaikan oleh seorang penulis Mesir, Hisyam Hilali, dalam situs alraesryoon.com, ikut mendukung kisah-kisah sebelumnya. Abu Mujahid, salah seorang pejuang yang melakukan ribath (berjaga) mengatakan,

“Ketika saya mengamati gerakan tank-tank di perbatasan kota, dan tidak ada seorang pun di sekitar, akan tetapi saya mendengar suara orang yang bertasbih dan beritighfar. Saya berkali-kali mencoba untuk memastikan asal suara itu, akhirnya saya memastikan bahwa suara itu tidak keluar kecuali dari bebatuan dan pasir.”

Sudah Meledak, Ranjau Masih Utuh ... 

Sebuah kejadian “aneh” terjadi di Gaza Selatan, tepatnya di daerah AI Maghraqah. Saat itu para mujahidin sedang memasang ranjau. Di saat mengulur kabel, tiba-tiba sebuah pesawat mata-mata Israel memergoki mereka. Bom pun langsung jatuh ke lokasi itu.

Untunglah para mujahidin selamat. Namun, kabel pengubung ranjau dan pemicu yang tadi hendak disambung menjadi terputus. Tidak ada kesempatan lagi untuk menyambungnya, karena pesawat masih berputar-putar di atas.

Tak lama kemudian, beberapa tank Israel mendekati lokasi di mana ranjau-ranjau tersebut ditanam. Tak sekadar lewat, tank-tank itu malah berhenti tepat di atas peledak yang sudah tak berfungsi itu.

Apa daya, kaum Mujahidin tak bisa berbuat apa-apa. Kabel ranjau jelas tak mungkin disambung, sementara tank-tank Israel telah berkumpul persis di atas ranjau.

Mereka merasa amat sedih, bahkan ada yang menangis ketika melihat pemandangan itu. Sebagian yang lain berdoa, “allahumma kama lam tumakkinna minhum, allahumma la tumakkin lahum,” yang maknanya, “Ya Allah, sebagaimana engkau tidak memberikan kesempatan kami menghadapi mereka, jadikanlah mereka juga tidak memiliki kesempatan serupa.”

Tiba-tiba, ketika fajar tiba, terjadilah keajaiban. Terdengar ledakan dahsyat persis di lokasi penanaman ranjau yang tadinya tak berfungsi.

Setelah Tentara Israel pergi dengan membawa kerugian akibat ledakan lersebut, para mujahidin segera melihal lokasi ledakan. Sungguh aneh, ternyata seluruh ranjau yang telah mereka tanam itu masih utuh. Dari mana datangnva ledakan? Wallahu a’lam.

Masih dari wilayah Al Maghraqah. Saat pasukan Israel menembakkan artileri ke salah satu rumah, hingga rumah itu terbakar dan api menjalar ke rumah sebelahnya, para mujahidin dihinggapi rasa khawatir jika api itu semakin tak terkendali.

Seorang dari mujahidin itu lalu berdoa, “Wahai Dzat yang merubah api menjadi dingin dan tidak membahayakan untuk Ibrahim, padamkanlah api itu dengan kekuatan-Mu.”

Maka, tidak lebih dari tiga menit, api pun padam. Para mujahidin menangis terharu karena mereka merasa Allah Subhanuhu wa Ta’ala (SWT) telah memberi pertolongan dengan terkabulnya doa mereka dengan segera.

Merpati dan Anjing ... 

Di saat para mujahidin terjepit, hewan-hewan dan alam tiba-tiba ikut membantu, bahkan menjelma menjadi sesuatu yang menakutkan.

Seorang mujahid Palestina menuturkan “kisah aneh” lainnya kepada situs Filithin Al Aan (25/1/ 2009). Saat bertugas di wilayah Jabal Ar Rais, sang mujahid melihat seekor merpati terbang dengan suara melengking, yang melintas sebelum rudal-rudal Israel berjatuhan di wilayah itu.

Para mujahidin yang juga melihat merpati itu langsung menangkap adanya isyarat yang ingin disampaikan sang merpati.

Begitu merpati itu melintas, para mujahidin langsung berlindung di tempat persembunyian mereka. Ternyata dugaan mereka benar. Selang beberapa saat kemudian bom-bom Israel datang menghujan. Para mujahidin itu pun selamat.

Adalagi “cerita keajaiban” mengenai seekor anjing, sebagaimana diberitakan situs Filithin Al Aan. Suatu hari, tatkala sekumpulan mujahidin Al Qassam melakukan ribath di front pada tengah malam, tiba-tiba muncul seekor anjing militer Israel jenis doberman. Anjing itu kelihatannya memang dilatih khusus untuk membantu pasukan Israel menemukan tempat penyimpanan senjata dan persembunyian para mujahidin.

Anjing besar ini mendekat dengan menampakkan sikap tidak bersahabat. Salah seorang mujahidin kemudian mendekati anjing itu dan berkata kepadanya, “Kami adalah para mujahidin di jalan Allah dan kami diperintahkan untuk tetap berada di tempat ini. Karena itu, menjauhlah dari kami, dan jangan menimbulkan masalah untuk kami.”

Setelah itu, si anjing duduk dengan dua tangannya dijulurkan ke depan dan diam. Akhirnya, seorang mujahidin yang lain mendekatinya dan memberinya beberapa korma. Dengan tenang anjing itu memakan korma itu, lalu beranjak pergi.

Kabut pun Ikut Membantu ... 

Ada pula kisah menarik yang disampaikan oleh komandan lapangan Al Qassam di kamp pengungsian Nashirat, langsung setelah usai shalat dhuhur di masjid Al Qassam (17/1/2009).

Saat itu sekelompok mujahidin yang melakukan ribath di Tal Ajul terkepung oleh tank-tank Israel dan pasukan khusus mereka. Dari atas, pesawat mata-mata terus mengawasi.

Di saat posisi para mujahidin terjepit, kabut tebal tiba-tiba turun di malam itu. Kabut itu telah menutupi pandangan mata tentara Israel dan membantu pasukan mujahidin keluar dari kepungan.

Kasus serupa diceritakan oleh Abu Ubaidah. salah satu pemimpin lapangan Al Qassam, sebagaimana ditulis situs almesryoon.com (sudah tidak bisa diakses lagi). la bercerita bagaimana kabut tebal tiba-tiba turun dan membatu para mujahidin untuk melakukan serangan.

Awalnya, pasukan mujahiddin tengah menunggu waktu yang tepat untuk mendekati tank-tank tentara Israel guna meledakkannya. “Tak lupa kami berdoa kepada Allah agar dimudahkan untuk melakukan serangan ini,” kata Abu Ubaidah.

Tiba-tiba turunlah kabut tebal di tempat tersebut. Pasukan mujahidin segera bergerak menyelinap di antara tank-tank, menanam ranjau-ranjau di dekatnya, dan segera meninggalkan lokasi tanpa diketahui pesawat mata-mata yang memenuhi langit Gaza, atau oleh pasukan infantri Israel yang berada di sekitar kendaraan militer itu. Lima tentara Israel tewas di tempat dan puluhan lainnya luka-luka setelah ranjau-ranjau itu meledak.

Karena kekejaman zionis yahudi, semua makhluk Allah melawannya, Maha benar sabda Rasulullah SAW dalam haditsnya:

Tidak akan terjadi hari kiamat, hingga muslimin memerangi Yahudi. Orang-orang Islam membunuh Yahudi sampai Yahudi bersembunyi di balik batu dan pohon. Namun batu atau pohon berkata, "Wahai muslim, wahai hamba Allah, inilah Yahudi di belakangku, kemarilah dan bunuh saja. Kecuali pohon Gharqad (yang tidak demikian), karena termasuk pohon Yahudi." (HR Muslim dalam Shahih Jami' Ash-shaghir no. 7427)

“Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mu'min, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Itulah (karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu), dan sesungguhnya Allah melemahkan tipu daya orang-orang yang kafir.” (QS 8: 17-18)

Selamat Dengan Al-Qur’an ... 

Cerita ini bermula ketika salah seorang pejuang yang menderita luka memasuki rumah sakit As Syifa’. Seorang dokter yang memeriksanya kaget ketika mengetahui ada sepotong proyektil peluru bersarang di saku pejuang tersebut.

Yang membuat ia sangat kaget adalah timah panas itu gagal menembus jantung sang pejuang karena terhalang oleh sebuah buku doa dan mushaf Al-Qur’an yang selalu berada di saku sang pejuang.

Buku kumpulun doa itu berlobang, namun hanya sampul muka mushaf itu saja yang rusak, sedangkan proyektil sendiri bentuknya sudah “berantakan”.

Kisah ini disaksikan sendiri oleh Dr Hisam Az Zaghah, dan diceritakannya saat Festival Ikatan Dokter Yordan sebagaimana ditulis situs partai Al Ikhwan Al Muslimun (23/1/2009).

Dr. Hisam juga memperlihatkan bukti berupa sebuah proyektil peluru, mushaf Al-Qur’an, serta buku kumpulan doa-doa berjudul Hishnul Muslim yang menahan peluru tersebut.

Abu Ahid, imam Masjid An-Nur di Hay As Syeikh Ridzwan, juga punya kisah menarik. Sebelumnya, Israel telah menembakkan 3 rudalnya ke masjid itu hingga tidak tersisa kecuali hanya puing-puing bangunan. “Akan tetapi mushaf-mushaf Al-Qur’an tetap berada di tampatnya dan tidak tersentuh apa-apa,” ucapnya seraya tak henti bertasbih.

“Kami temui beberapa mushaf yang terbuka tepat di ayat-ayat yang mengabarkan tentang kemenangan dan kesabaran, seperti firman Allah,

“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka berkata, ‘sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali,’ (Al-Baqarah [2]: 155-156).”

jelas Abu Ahid sebagaimana dikutip Islam Online (15/1/2009).

Harum Jasad Para Syuhada ... 

Abdullah As Shani adalah anggota kesatuan sniper (penembak jitu) al-Qassam yang menjadi sasaran rudal pesawat F-16 Israel ketika sedang berada di pos keamanan di Nashirat, Gaza.

Jasad komandan lapangan al-Qassam dan pengawal khusus para tokoh Hamas ini “hilang” setelah terkena rudal. Selama dua hari jasad tersebut dicari, ternyata sudah hancur tak tersisa kecuali serpihan kepala dan dagunya. Serpihan-serpihan tubuh itu kemudian dikumpulkan dan dibawa pulang ke rumah oleh keluarganya untuk dimakamkan.

Sebelum dikebumikan, sebagaimana dirilis situs syiria-aleppo.com (24/1/2009), serpihan jasad tersebut sempat disemayamkan di sebuah ruangan di rumah keluarganya. Beberapa lama kemudian, mendadak muncul bau harum misk dari ruangan penyimpanan serpihan tubuh tadi.

Keluarga Abdullah As Shani’ terkejut lalu memberitahukan kepada orang-orang yang mengenal sang pejuang yang memiliki kuniyah (julukan) Abu Hamzah ini.

Lalu, puluhan orang ramai-ramai mendatangi rumah tersebut untuk mencium bau harum yang berasal dari serpihan-serpihan tubuh yang diletakkan dalam sebuah kantong plastik.

Bahkan, menurut pihak keluarga, 20 hari setelah wafatnya pria yang tak suka menampakkan amalan-amalannya ini, bau harum itu kembali semerbak memenuhi rungan yang sama.

Cerita yang sama terjadi juga pada jenazah Musa Hasan Abu Nar, mujahid Al Qassam yang juga syahid karena serangan udara Israel di Nashiriyah. Dr Abdurrahman Al Jamal, penulis yang bermukim di Gaza, ikut mencium bau harum dari sepotong kain yang terkena darah Musa Hasan Abu Nar. Walau kain itu telah dicuci berkali-kali, bau itu tetap semerbak.

Ketua Partai Amal Mesir, Majdi Ahmad Husain, menyaksikan sendiri harumnya jenazah para syuhada. Sebagaimana dilansir situs Al Quds Al Arabi (19/1/2009), saat masih berada di Gaza, ia menyampaikan,

“Saya telah mengunjungi sebagian besar kota dan desa-desa. Saya ingin melihat bangunan-bangunan yang hancur karena serangan Israel. Percayalah, bahwa saya mencium bau harumnya para syuhada.”

Dua Pekan Wafat, Darah Tetap Mengalir ... 

Yasir Ali Ukasyah sengaja pergi ke Gaza dalam rangka bergabung dengan sayap milisi pejuang Hamas, Brigade Izzuddin al-Qassam. Ia meninggalkan Mesir setelah gerbang Rafah, yang menghubungkan Mesir-Gaza, terbuka beberapa bulan lalu.

Sebelumnya, pemuda yang gemar menghafal Al-Qur’an ini sempat mengikuti wisuda huffadz (para penghafal) Al-Qur’an di Gaza dan bergabung dengan para mujahidin untuk memperoleh pelatihan militer. Sebelum masuk Gaza, di pertemuan akhir dengan salah satu sahabatnya di Rafah, ia meminta didoakan agar memperoleh kesyahidan.

Untung tak dapat ditolak, malang tak dapat diraih, di bumi jihad Gaza, ia telah memperoleh apa yang ia cita-citakan. Yasir syahid dalam sebuah pertempuran dengan pasukan Israel di kamp pengungsian Jabaliya.

Karena kondisi medan, jasadnya baru bisa dievakuasi setelah dua pekan wafatnya di medan pertempuran tersebut.

Walau sudah dua pekan meninggal, para pejuang yang ikut serta melakukan evakuasi menyaksikan bahwa darah segar pemuda berumur 21 tahun itu masih mengalir dan fisiknya tidak rusak. Kondisinya mirip seperti orang yang sedang tertidur.

Sebelum syahid, para pejuang pernah menawarkan kepadanya untuk menikah dengan salah satu gadis Palestina, namun ia menolak. “Saya meninggalkan keluarga dan tanah air dikarenakan hal yang lebih besar dari itu,” jawabnya.

Kabar tentang kondisi jenazah pemuda yang memiliki kuniyah Abu Hamzah beredar di kalangan penduduk Gaza. Para khatib juga menjadikannya sebagai bahan khutbah Jumat mereka atas tanda-tanda keajaiban perang Gaza. Cerita ini juga dimuat oleh Arab Times (7/2/ 2009)

Terbunuh 1.000, Lahir 3.000 ... 

Hilang seribu, tumbuh tiga ribu. Sepertinya, ungkapan ini cocok disematkan kepada penduduk Gaza. Kesedihan rakyat Gaza atas hilangnya nyawa 1.412 putra putrinya, terobati dengan lahirnya 3.700 bayi selama 22 hari gempuran Israel terhadap kota kecil ini.

Hamam Nisman, Direktur Dinas Hubungan Sosial dalam Kementerian Kesehatan pemerintahan Gaza menyatakan bahwa dalam 22 hari 3.700 bayi lahir di Gaza.

“Mereka lahir antara tanggal 27 Desember 2008 hingga 17 Januari 2009, ketika Israel melakukan serangan yang menyebabkan meninggalnya 1.412 rakyat Gaza, yang mayoritas wanita dan anak-anak,” katanya.

Bulan Januari tercatat sebagai angka kelahiran tertinggi dibanding bulan-bulan sebelumnya. Setiap tahun 50 ribu kasus kelahiran tercatat di Gaza. Dan, dalam satu bulan tercatat 3.000 hingga 4.000 kelahiran. Akan tetapi di masa serangan Israel 22 hari, kami mencatat 3.700 kelahiran dan pada sisa bulan Januari tercatat 1.300 kelahiran. Berarti dalam bulan Januari terjadi peningkatan kelahiran hingga 1.000 kasus.

Rasio antara kematian dan kelahiran di Gaza memang tidak sama. Angka kelahiran, jelasnya lagi, mencapai 50 ribu tiap tahun, sedang kematian mencapai 5 ribu.

“Israel sengaja membunuh para wanita dan anak-anak untuk menghapus masa depan Gaza. Sebanyak 440 anak-anak dan 110 wanita telah dibunuh dan 2.000 anak serta 1.000 wanita mengalami luka-luka.”

- Dari berbagai sumber -
 

Copas dari :
http://www.lbbqsohibulquran.org/2012/11/kisah-nyata-keajaiban-keajaiban-di.html

Kisah Nyata: Ketegaran Bara’ah, Gadis Cilik Penghafal Al-Qur’an & Pengidap Kanker

Kisah Nyata: Ketegaran Bara’ah, Gadis Cilik Penghafal Al-Qur’an & Pengidap Kanker


Al Qur’an Telah Membuatnya Seteguh Karang Menghadapi Ujian yang Datang Bertubi-tubi

Berikut ini adalah kisah Bara’ah Abu Lail, gadis kecil yang menderita kanker ganas stadium akhir dan menjadi yatim piatu hanya dalam lima hari.

Bara’ah Abu Lail, hafal Al-Qur’an pada usia 10 tahun. Namun Allah lebih Menghendakinya bahagia di jannah-Nya. Anak kecil ini divonis terkena kanker ganas. Setelah ibunya lebih dulu meninggal dunia karena penyakit yang sama.

Saat ibunya mengetahui umurnya tidak lagi panjang, sang ibu berkata kepada anaknya yang tidak tahu apa yang akan terjadi pada dirinya :

“Anakku…. aku sebentar lagi, ibu akan mendahului kamu menuju jannah Allah. Dan ibu ingin engkau setiap hari membacakan Al Qur’an yang telah engkau hafalkan di telinga ibu. Kelak, Al Qur’an itulah yang akan menjagamu di dunia (sepeninggal ibu)

Demikianlah setiap sore gadis kecil ini membacakan Al Qur’an di telinga ibu yang terbaring lemah di rumah sakit.

Suatu hari ayah Bara’ah mendapat berita sangat penting dari rumah sakit bahwa kondisi istrinya kritis. Maka tanpa pikir panjang ia bergegas mengajak Bara’ah menuju rumah sakit.

Sesampai di rumah sakit, sang ayah tidak ingin anaknya ikut bersamanya melihat apa yang terjadi dengan ibunya. Ia khawatir gadis kecil itu shock jika mendengar kabar kondisi terburuk yang terjadi pada ibunya. Rupanya sang istri benar-benar sedang kritis.

Dalam kondisi sangat berduka ayah Bara’ah bergegas menuju mobilnya untuk memberitahukan kondisi ibunya, namun Allah berkehendak lain. Karena guncangan jiwa akibat musibah yang diterimanya, ia tidak fokus saat menyeberang jalan.

Qaddarullah, sebuah mobil menabraknya. Laki-laki itu pun meninggal seketika di hadapan putri tercintanya. Bara’ah menangis tersedu-sedu sambil memangku jasad ayahnya tercinta yang sudah tak bernyawa lagi.

Belum selesai musibah yang harus dihadapi gadis kecil ini, lima hari berselang dari wafatnya sanga ayah, ibunya tercinta pun menyusul dipanggil Allah menghadap-Nya. Tinggallah Bara’ah sebatang kara di negeri orang. Kedua orangtua Bara’ah adalah warga negara Mesir yang bekerja sebagai tenaga medis di Arab Saudi.

Bara’ah Abu Lail BARAAH-SAMIH
Bara’ah Abu Lail setelah hafal Al-Qur’an, lalu ditinggal meninggal dunia oleh ayah dan ibunya, kemudian menjadi yatim-piatu, dan tak lama setelah menjadi yatim-piatu, ia pun akhirnya meninggal karena penyakit kanker.

Tidak berselang lama, tanpa sebab tanpa gejala apapun sebelumnya, gadis kecil ini merasakan kesakitan yang luar biasa sebagaimana dialami oleh ibunya. Setelah diperiksa oleh dokter, ternyata ia pun mengidap penyakit kanker stadium akhir seperti yang dialami oleh ibunya.

Namun dengarlah apa yang diucapkan gadis kecil ini ketika ia tahu apa yang dialaminya :

“alhamdulillah …. sebentar lagi aku akan menyusul papa dan mama….!!!”

Seluruh yang mendengar ucapan gadis kecil itu terkejut bukan kepalang. Ujian dan musibah yang bertubi-tubi menimpa anak sekecil itu tetapi tidak sedikit pun membuatnya putus asa atau gundah gulana. Ia bahkan begitu sabar menghadapi beratnya cobaan hidup yang dihadapinya.

Subhaanallaah… Al-Qur’an membuatnya seteguh karang menghadapi ujian yang bertubi-tubi datang. Seorang dermawan Saudi Arabia lalu membiayainya untuk berobat ke Inggris.

Berikut adalah video suara terakhir dari Bara’ah, sesaat sebelum Allah memanggilnya kembali menghadap-Nya, di Jannah-Nya, Insya Allah. (oleh: Ustadz Fuad Al Hazimi, via: voa-Islam)

http://youtu.be/eSrV4d6Pq1M


*

Kami hidup hanya untuk mati. Semua manusia begitu, tapi sedikit yang mau mengakuinya. Kami tak takut mati, karena mati itu keniscayaan. Tiada beda mati kini atau nanti. Yang menjadikannya beda hanyalah caranya. Kami adalah kaum yang akan maju berdesak-desakan ketika pintu menuju syahid terbuka.
(IslamIsLogic.wordpress.com – “guide us to the straigh path” , QS 1:6)

Copas dari :
http://islamislogic.wordpress.com/2013/04/26/kisah-ketegaran-baraah-gadis-cilik-hafal-al-quran-penderita-kanker/

Balasan Menghafal al Qur'an

Balasan Menghafal al Qur'an



Dr. Sayid Husain Al-Afanie menulis dalam bukunya yang berjudul AI-Jazaau min Jinsil Amal (Balasan itu Sesuai dengan Jenis Amalnya) kisah berikut ini, yang beliau sadur dari Syaikh Abdurrahman bin Aqil Adz-Dzahiri, dari Syaikh Mahfudh Asy Syanqathi–Direktur Utama Majma’ Raja Fahd untuk Pengadaan Al-Qur’an– dari Syaikh para qari’ di Majma’ tersebut, yakni Syaikh Amir Sayyid Utsman Rahimahullah. Syaikh Amir pada akhir usia yang ke-70 tahun,  syaraf bicaranya  terganggu sehingga tidak bisa bersuara.
Ketika itu, beliau mengajar murid-murid yang belajar qira’ah, tetapi secara tiba-tiba tidak mampu bersuara, hanya terdengar desahan saja. Kemudian, beliau sakit keras dan selama itu beliau terbaring di rumah sakit.
Suatu ketika para perawat dan pasien rumah sakit dikagetkan dengan seorang pasien lelaki yang syaraf bicaranya putus, tetapi ia masih sanggup duduk, bahkan melantunkan firman- firman Allah Ta’ala dengan suara jelas lagi merdu;  mengkhatamkan seluruh Al-Qur’an dari ‘ayat Al-Fatihah hingga An- Naas selama 3 hari. Setelah itu, beliau meninggal dunia.
Subhanallah..
Bukankah balasan suatu kebaikan itu berupa kebaikan pula?!
Sumber: Dikutip dari buku “Bila Amal di Bayar Kontan’, Sayyid Abdullah Sayyid Abdurrahman ar-Rifai, Penerbit Darul Falah
Copas dari :

http://kisahislam.net/2013/03/13/balasan-menghafal-al-quran-al-karim/

KISAH NYATA: SEORANG IBU PENGHAFAL AL-QURAN

KISAH NYATA: SEORANG IBU PENGHAFAL AL-QURAN


Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Sholawat beserta salam semoga tercurahkan kepada Nabi Muhammad shallalahu ‘alaihi wa sallam.

Para pembaca yang budiman…..
Untuk memberi motivasi kepada seseorang dapat melalui beberapa cara, diantaranya dengan menyajikan kisah – kisah yang menarik dan juga bisa menggugah semangat orang yang membacanya. Memang tujuan adanya kisah dalam al-Qur’an adalah sebagai peringatan dan diambil pelajaran oleh para pembaca. Sebagaimana yang Allah firmankan dalam Al-Qur’an: 

'Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman'.( QS.YUSUF:111)
Dalam rubrik ini insya Allah kami akan menyajikan kisah – kisah yang dapat menggugah semangat dalam menghafal al qur’an dan juga menjaga hafalannya.

Berikut ini adalah kisah dari ukhti ummu zayid :
Alhamdulillah sesuai dengan kemuliaan wajah-Nya dan keagungan-Nya, aku telah khatam menghafal Al qur’an, berikut ini pengalamanku dan aku menghadiahkannya untuk kalian.
Perlu diketahui bahwa sesungguhnya tujuan terbesar dalam hidupku adalah hafal surat al baqoroh dan ali imron. Demi Allah, sekali kali kalian tidak akan percaya bahwa sebenarnya aku orang yang tidak memiliki kesabaran untuk menghafal al quran secara keseluruhan. Itu disebabkan karena aku menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang mustahil dan sangat susah diwujudkan. Dan saat itu, aku masih hidup dengan mempertahankan tujuan yang ingin aku wujudkan sebelumnya, yaitu hafal surat al baqoroh dan ali imron, aku beranggapan bahwa kedua surat itu adalah surat al quran yang paling sulit (untuk dihafal). Aku juga beranggapan bahwa sepertinya sulit sekali untuk mempertahankan hafalan tersebut dalam waktu lama. Subhanallah, tak terasa sudah 7 tahun aku mempertahankan hafalan kedua sutat tersebut. Ketika tiba bulan Ramadhan, tiba-tiba mengejutkanku bahwa ia akan beri’tikaf selama 15 hari terakhir Ramadhan di masjidil Haram. Tentu kalian mengerti akan kesulitan yang kuhadapi, karena aku ditinggal sendirian bersama anak-anakku

Ketika waktunya tiba dan suamiku pergi untuk beri’tikaf, akupun merasakan pahitnya ditinggal sendirian ( bersama anak-anak ). Kemudian , aku menengadahkan tanganku kepada Dzat yang maha pengasih lagi maha penyayang. Lalu aku berdoa kepadanya dengan doa orang yang tertimpa kesulitan, sedang airmatapun mengalir deras membasahi pipiku, “wahai Rabbku, Engkau Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, curahkanlah kepadaku rezeki berupa teman – teman yang sholihah, yang lebih baik dariku. Sehingga, aku bisa meneladani mereka. Ya Allah, berikanlah untukku sebaik – baik teman.”

Sungguh,dalam waktu singkat do’aku dikabulkan oleh Rabb yang maha pengasih. Ketika aku duduk di depan computer sambil mengakses internet guna mencari situs yang berisikan informasi tentang keajaiban al-Qur’an al-karim,tiba-tiba mataku tertuju pada situs akademipenghafal Al-Qur’an. Sebelumnya,aku tidak tahu bahwa masuknya aku ke dalam komunitas situs ini adalah pertanda terkabulnya doaku. Aku pun masuk dalam komunitas situs ini dalam keadaan terharu.

Demi Allah yang tiada ilah kecuali Dia, aku sign out(keluar) dari situs ini dalam keadaan tidak seperti keadaan aku sign in (masuk).keadaan ini belum pernah aku impikan sebelumnya. Setelah itu, pikiranku tertuju untuk beritkaf selama 10 hari terakhir ramadhon dalam rangka menghafal alqur’an sejak pertama aku beritikaf, aku merasa kagum dengan para akhwat yang turut beritikaf denganku. Demi Allah, mereka adalah sebaik-baik saudari dijalan Allah mereka menceritakan pengalaman-pengalaman mereka dalam menghafal al qur’an.


Setelah mendengar cerita mereka, kubayangkan seakan – akan aku bagaikan makhluk dari planet lain (di tengah – tengah mereka). Masuk akalkah bahwa di antara mereka ada yang hafal al qur’an hanya dalam waktu 3 hari? Padahal, selama 7 tahunaku tidak memiliki hafalan kecuali hanya 2 surat.
Aku bertawakkal kepada Dzat yang maha hidup kekal lagi terus menerus mengurusi makhluk-Nya, atas karunia-Nya yang melimpah. Aku mengambil keputusan untuk beriktikaf dalam menghafal al qur’an. Karena sesungguhnya, inilah amalan terbaik di bulan Ramadhan. Aku pun berujar, “sungguh, Ramadhan kali ini akan berbeda (dengan Ramadhan sebelumnya), dengan izin Allah.”
Kuambil secarik kertas, lalu kutulis di dalamnya keuntungan – keuntungan yang akan kuperoleh dari menghafal al qur’an, berupa nikmat dan kebaikan yang besar, baik di dunia maupun di akhirat. Begitu pula dengan nikmat yng lebih besar daripada keduanya, yaitu keridhoan Allah kepadaku.

Dengan izin Allah, (saat itu) dalam waktu yang tidak lama lagi aku akan bergabung dengan mereka, sebaik-baik umat ini. Sebagaimana sabda Rosulullah 
 yang artinya : 
“Orang yang paling baik diantara kalian adalah orang yang mempelajari al qur’an dan mengajarkannya”
Saat itu, aku berkhayal seakan-akan aku bersama para nabi, shiddiqin, syuhada’, dan orang-orang sholih. Dan mereka itulah teman yang paling baik. Kemudian aku berkhayal lagi seakan-akan aku menempatkan mahkota diatas kedua orang tuaku dengan kedua tanganku ini. Aku berkhayal bahwa aku dapat membebaskan mereka (dari siksa), kemudian akupun kembali pada diriku (untuk membebaskan diri sendiri). Aku juga berkhayal mengenai berbagai kenikmatan yang allah anugerahkan kepadaku.

Aku menulis semuanya, dan kugantungkan tulisan itu ditempat yang senantiasa kurawat. Aku pun membawa halaman-halaman (mushaf al qur’an), dimana aku telah bertekad untuk tidak sekalipun meninggalkannya; bahkan aku menjadikannyasebagai teman setia dalam perjalanan ini.
Setelah itu, aku berwudhu lalu duduk dan membuka al qur’an. Aku berkata dengan suara yang terdengar oleh diri sendiri, “sekarang, aku akan menguji kemampuan akalku yang sebenarnya. Dan aku akan memulainya dengan bertawakkal kepada Allah.” Itu kuucapkan seraya mengulang-ulang firman Allah Ta’ala: 

'Dan Sesungguhnya Telah kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, Maka Adakah orang yang mengambil pelajaran?' (al Qomar:17)
Kemudian, kupasang alat pengingat untuk mengingatkanku bahwa aku akan hafal 1 lembar dalam 10 menit. Maka,akupun mulai menghafal halaman demi halaman. setiap halaman, kuhafalkan seraya berdo’a kepada Allah agar dia berkenan memantapkannya pada diriku. Doa yang kupanjatkan adalah “ wahai Rabbku, kutitipkan padamu apa yang telah Engkau ajarkan kepadaku. Maka, jagalah ia untukku”.

Aku mulai menghafal pada waktu dhuha sampai zhuhur. Lalu, menghafal lagi sampai jam 14.30 siang. Setelah itu, aku tidur sebentar dengan memasang alarm. Ketika alarm berbunyi pada jam 3 sore, aku segera bangun untuk shalat ashar. Kemudian , aku mulai menghafal sampai datangnya waktu maghrib, dan kulanjutkan hingga menjelang isya’. Dari mulai menghafal sampai selesai, aku tidak berpindah-pindah. Aku hanya duduk pada satu tempat, hingga tak terasa aku sudah hafal 3 juz. Ya allah betapa mulianya Engkau dan betapa besarnya nikmat-Mu. Akan tetapi, mengapa kami tak pernah mensyukuri nikmat ini?

Aku pun melanjutkan hafalanku sampai selesai menghafal 16 juz al qur’an dalam 6 hari, Alhamdulillah. Aku bingung, apakah akan kusempurnakan hafalanku menjadi 30 juz ataukah mengulang-ulang apa yang telah ku hafal, kawan-kawan baikku menasehatiku agar aku menyempurnakannya dan tidak berhenti hanya pada juz 16. Maka kusempurnakanlah hafalanku.
Aku yakin bahwa hafalanku tidak hilang hingga suamiku datang dan kembali berkumpul dengan keluarga. Karena, aku telah menitipkannya pada Rabbku yang Maha Mulia (agar Dia selalu menjaganya).
Subhanallah, tak terasa aku akan meninggalkan tempat dimana aku menghafal al qur’an dan berkhalwat dengan Rabbku. Setelah itu, aku akan menuju kehidupan yang melalaikan dan kehidupan fana, dimana semuanya sedang memfokuskan perhatiannya pada beberapa pertanyaan,”kue dan manisan apa yang akan kami persiapkan untuk hari ‘id kali ini?” pakaian apa yang akan kami pakai pada hari ‘id kali ini?” serta berbagai hal lainnya, sedang aku masih mengasingkan diri untuk menghafal al qur’an.
Kemudian, aku kembali kepada mereka, sedang aku berharap dapat mengkhatamkan hafalanku pada hari terakhir bulan ramadhan dan mendapat dua kebahagiaan. Namun ketika uang kuharapkan belum terwujud, cobaan dan ujian dari Rabb semesta alam datang padaku. Sehingga mencul pertanyaan, apakah aku akan melanjutkan hafalanku atau justru menghentikannya? Dan Alhamdulillah, aku tidak berhenti menghafal. 

Mungkin kalian tak akan percaya bahwa suatu hari aku tidak dapat menghafal kecuali hanya 2 halaman. Bukan karena tidak bias, tapi karena aku disibukkan dengan musibah yang menimpku. Keempat anakku semuanya menderita demam tinggi, hingga mereka tidak bias tidur sepanjang malam. Karena itulah, aku banyak begadang malam untuk menemani mereka. Bahkan ketika aku merasa kepayahan sedang anakku yang paling kecil terus menerus menangis; dan tidak ada seorang pun yang membantu, aku pun jatuh sakit.
Alhamdulillah, walau sakit aku tak berhenti melanjutkan hafalan, dan terus berusaha sampai Allah berkenan menyembuhkan anak-anakku yang sudah lama terbaring sakit. Setelah mereka sembuh, aku bertawakkal kepada Allah dan berkata pada diri sendiri,”Akan kukhatamkan 10 juz hafalan yang tersisa, dalam waktu dekat.” Dan Alhamdulillah, sungguh Allah telah memberikan karunia-Nya kepadaku hingga aku dapat menghafal dengan cepat.
Sekarang, akan kuceritakan kepada kalian momen-momen terindah dalam hidupku, yaitu saat aku mengkhatamkan hafalan al qur’an.

Pada pagi hari itu, aku bermimpi indah. Mimpi itu menghembuskan kabar gembira bahwa pada hari itu aku akan mengkhatamkan hafalan al qur’an. Serta merta, aku pun teramat gembira. Karena, pada hari itu hafalanku yang tersisa hanya tinggal 3 juz.
Aku mulai menghafal. Dan tanpa sadar, aku menghafal dengan cepat. 1 halaman dapat kuhafal dalam waktu 8 menit, bahkan kadang hanya 5 menit. Sehingga, ketika waktu menunjukkan pukul 21.00 malam, aku masih tak tahu bahwa itulah waktu yang telah kutunggu-tunggu. Itulah waktu pengkhataman hafalan.
Aku terus membaca, hingga tak kusadari bahwwa yang tersisa hanya tinggal beberapa halaman. Tahukah kalian bagaimana aku menyadarinya? Sungguh, kalian tak akan percaya. Aku merasakan sesuatu yang sangat aneh. Ini belum pernah kurasakan sebelumnya. Perasaan ini bahkan tak bisa digambarkan, karena begitu cepatnya menjalar ke seluruh tubuhku. Perasaan yang berupa ketenangan dan ketentraman.

Demi Allah, seakan-akan diriku terbang karena ringannya tubuh. Aku jadi seperti selembar bulu, karena saking ringannya. Aku merasa heran, hingga aku bertanya pada diriku sendiri, “Rasa apakah ini?” jantungku mulai berdegup kencang, seolah-olah ia berkata kepadaku, “ semoga keberkahan terlimpahkan atasmu. Engkau telah khatam menghafal al qur’an. Al qur’an telah bersemayam didadamu.”
Tiba-tiba aku tersadar, ternyata aku sedang membaca akhir ayat dimana aku mengkhatamkan al qur’an. Aku pun langsung menyungkurkan diri bersujud syukur di tanah, sedang air mata kegembiraan jatuh menetes ke bumi. Aku lantas berlari menemui suamiku, dan kukabarkan berita gembira ini padanya dengan penuh suka cita.
Lalu, kutatap mushaf yang telah menemaniku sepanjang perjalanan menghafal ini. Aku menangis sembari berkata, “ duhai mushafku yang tercinta… sungguh, aku telah sampai pada momen-momen terindah dalam hidupku.” Kupeluk mushaf itu dengan erat, dan berulang kali kuucapkan, “ Alhamdulillah, segala piji bagi Allah, sesuai dengan kemuliaan wajah-Nya dan keagungan kuasa-Nya. Alhamdulillah, aku telah khatam al qur’an sebelum ajal menjemputku.” Padahal sebelumnya, aku takut jika aku mati sedangkan aku belum sempat menghafal al qur’an dengan sempurna.
Berikutnya, perasaan yang tak bisa kugambarkan adalah tiba-tiba aku beranjak kedepan computer. Lalu, kuputar CD berisi ucapan-ucapan takbir, yang kuimpikan sepanjang masa hafalanku. Kemudian, aku dan suamiku mendengarkannya dan semua merasa gembira.

Ya Allah, segala puji bagi-Mu yang telah memuliakanku dengan menghafal kitab-Mu. Duhai Rabbku, betapa mulianya Engkau. Kau telah menggantikan kesendirianku dengan sahabat-sahabat terbaik yang menemaniku dalam kehidupanku dan di kuburku nanti. Wahai Rabbku, ku berdoa pada-Mu saat hatiku terkoyak lantaran kesendiriaan. Kemudian, Engkaumenggantinya dengan sesuatu yang lebih dari apa yang kuangan-angankan dan kuharapkan. Betapa mulianya Engkau, wahai Rabb yang maha pengasih, yang telah memberikan karunia berlimpah.

Untuk menutup halaman-halaman yang indah ini, aku sampaikan kepada kalian bahwa aku adalah wanita, sebagiman wanita yang lainnya. Aku memiliki suami dan anak-anak. Anak-anakku belajar di sekolah khusus dengan kurikulum pelajaran yang sulit. Aku hafal al qur’an, tapi aku tak melalaikan tanggung jawabku sebagai seorang ibu. Aku mendidik anak-anakku dan berusaha mengajari mereka segala sesuatu. Bahkan tanggung jawabku yang paling utama adalah sebagai seorang istri yang berusaha untuk mendapatkan keridhaan suami, tanpa mengurangi haknya dan menunaikan kewajiban-kewajibanku secara sempurna.
Alhamdulillah, Allah tidak menjadikanku telat dalam menghafal al qur’an. Demi Allah, janganlah sekalipun kalian beralasan atas tidak hafalnya kalian terhadap al qur’an. Apalagi kalian adalah para gadis yang belum menikah dan belum memikul tanggyng jawab.

Pertama dan terakhir kalinya adalah berprasangka baik pada Allah. Karena dengan begitu, Allah akan berprasangka baik sesuai dengan persangkaan hambanya. Pada awalnya, aku mengira bahwa surat al baqarah dan ali Imran sangat sulit untuk dihafal; dan usaha itu akan memakan waktu yang lama. Dan Allah pun memberikanku anugrah sesuai dengan apa yang kusangka, yakni menghafalnya selama 7 tahun. Itu karena aku tidak berprasangka baik kepada Allah. Namun setelah itu, ketika aku berpasrah diri pada Allah dan berprasangka baik terhadap-Nya, aku berujar pada diri sendiri,”aku akan menghafal al qur’an secara keseluruhan dalam waktu singkat.” Allah pun memuliakanku dengan menghafal kitab-Nya, bahkan memudahkanku. Allah menunjuki jalan dan cara menghafal yang bermacam-macam, yang tak pernah kumengerti dan kuketahui sebelumnya.

Wahai orang yang berkeinginan untuk menghafal al qur’an, bertawakkallah kepada Allah ! bersungguh-sungguhlah dalam berusaha! Dan jujurlah pada dirimu, bahwasanya engkau benar-benar ingin menghafal al qur’an! Serta, berprasangka baiklah bahwa Allah akan memberikan taufik-Nya atas usahamu! Demi Allah, engkau akan memperoleh apa yang kau inginkan dengan segera. Dan engkau akan menjadi bagian dari penghafal kalam ilahi yang paling agung, yaitu kalam Rabb semesta alam. Dia telah berfirman : 
وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ (17)
Dan Sesungguhnya Telah kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, Maka Adakah orang yang mengambil pelajaran? (al Qomar:17)
Subhanallah, mereka yang mengenalku mengira bahwa aku selalu mengawasi anak-anakku. tapi tanpa perlu kujelaskan dengan kata-kata, mereka akan mengetahui hal yang sebenarnya.

Suatu hari, ketika aku sedang duduk, anakku yang belum genap berusia 2 tahun mendekati meja yang di atasnya terdapat beberapa mushaf. Kemudian, ia membawa mushaf yang biasa kugunakan untuk menghafal. Ia mengenali mushaf itu, dan membawanya padaku. Setelah itu, ia menyerahkannya padaku sembari mengucapkan beberapa patah kata, “bacalah wahai ibu, dalam waktu dekat ibu akan selesai mengkhatamkannya.”
Subhanallah, pada hari itu tidak ada perhatiannya selain mencariku dan mencari ayahnya. Jika mushaf tidak terdapat di tangan kami, maka ia berlari untuk mengingatkan kami. Subhanallah.

Dikutip dari buku “menghafal Al-Qur’an dalam satu bulan” karya Ir.Amjad Qosim.


http://ruangmimpi-suga.blogspot.com/2012/07/kisah-nyata-seorang-ibu-penghafal-al_86.html

AKHIR HAYAT PENGHAFAL AL QURAN (HAFIZH) DAN PENYANYI .......



KISAH NYATA: 
AKHIR HAYAT PENGHAFAL AL QURAN (HAFIZH) DAN PENYANYI .......

Sahabat Qur'ani silahkan baca kisah dibawah ini, yang dikutip dari arrahmah.com. kisah yang membuat kita tak kuasa membendung air mata, kisah yang mengharukan, kisah yang juga membuat kita malu akan diri kita.
BERIKUT KISAHNYA.........................
Tatkala masih di bangku sekolah, aku hidup bersama kedua orangtuaku dalam lingkungan yang baik. Aku selalu mendengar do’a ibuku saat pulang dari keluyuran dan begadang malam. Demikian pula ayahku, ia selalu dalam shalatnya yang panjang. Aku heran, mengapa ayah shalat begitu lama, apalagi jika saat musim dingin yang menyengat tulang.

Aku sungguh heran. Bahkan hingga aku berkata kepada diri sendiri: “Alangkah sabarnya mereka…setiap hari begitu…benar-benar mengherankan!”

Aku belum tahu bahwa di situlah kebahagiaan orang mukmin, dan itulah shalat orang-orang pilihan…Mereka bangkit dari tempat tidumya untuk bermunajat kepada Allah.Setelah menjalani pendidikan militer, aku tumbuh sebagai pemuda yang matang. Tetapi diriku semakin jauh dari Allah. Padahal berbagai nasihat selalu kuterima dan kudengar dari waktu ke waktu.

Setelah tamat dari pendidikan, aku ditugaskan ke kota yang jauh dari kotaku. Perkenalanku dengan teman-teman sekerja membuatku agak ringan menanggung beban sebagai orang terasing.

Di sana, aku tak mendengar lagi suara bacaan Al-Qur’an. Tak ada lagi suara ibu yang membangunkan dan menyuruhku shalat. Aku benar-benar hidup sendirian, jauh dari lingkungan keluarga yang dulu kami nikmati.

Aku ditugaskan mengatur lalu lintas di sebuah jalan tol. Di samping menjaga keamanan jalan, tugasku membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan.

Pekejaan baruku sungguh menyenangkan. Aku lakukan tugas-tugasku dengan semangat dan dedikasi tinggi.

Tetapi, hidupku bagai selalu diombang-ambingkan ombak.

Aku bingung dan sering melamun sendirian…banyak waktu luang…pengetahuanku terbatas.

Aku mulai jenuh…tak ada yang menuntunku di bidang agama. Aku sebatang kara. Hampir tiap hari yang kusaksikan hanya kecelakaan dan orang-orang yang mengadu kecopetan atau bentuk-bentult penganiayaan lain. Aku bosan dengan rutinitas. Sampai suatu hari terjadilah suatu peristiwa yang hingga kini tak pernah kulupakan.

Ketika itu, kami dengan seorang kawan sedang bertugas di sebuah pos jalan. Kami asyik ngobrol…tiba-tiba kami dikagetkan oleh suara benturan yang amat keras. Kami mengalihkan pandangan. Ternyata, sebuah mobil bertabrakan dengan mobil lain yang meluncur dari arah berlawanan. Kami segera berlari menuju tempat kejadian untuk menolong korban.

Kejadian yang sungguh tragis. Kami lihat dua awak salah satu mobil daIam kondisi sangat kritis. Keduanya segera kami keluarkan dari mobil lalu kami bujurkan di tanah.

Kami cepat-cepat menuju mobil satunya. Ternyata pengemudinya telah tewas dengan amat mengerikan. Kami kembali lagi kepada dua orang yang berada dalam kondisi koma. Temanku menuntun mereka mengucapkan kalimat syahadat.

Ucapkanlah “Laailaaha Illallaah…Laailaaha Illallaah…” perintah temanku.

Tetapi sungguh mengherankan, dari mulutnya malah meluncur lagu-lagu. Keadaan itu membuatku merinding.Temanku tampaknya sudah biasa menghadapi orang-orang yang sekarat…Kembali ia menuntun korban itu membaca syahadat.

Aku diam membisu. Aku tak berkutik dengan pandangan nanar. Seumur hidupku, aku belum pernah menyaksikan orang yang sedang sekarat, apalagi dengan kondisi seperti ini. Temanku terus menuntun keduanya mengulang-ulang bacaan syahadat. Tetapi… keduanya tetap terus saja melantunkan lagu. 

Tak ada gunanya…

Suara lagunya semakin melemah…lemah dan lemah sekali. Orang pertama diam, tak bersuara lagi, disusul orang kedua. Tak ada gerak… keduanya telah meninggal dunia.

Kami segera membawa mereka ke dalam mobil.

Temanku menunduk, ia tak berbicara sepatah pun. Selama pejalanan hanya ada kebisuan, hening.

Kesunyian pecah ketika temanku memulai bicara. Ia berbicara tentang hakikat kematian dan su’ul khatimah (kesudahan yang buruk). Ia berkata: “Manusia akan mengakhiri hidupnya dengan baik atau buruk. Kesudahan hidup itu biasanya pertanda dari apa yang dilakukan olehnya selama di dunia”. Ia bercerita panjang lebar padaku tentang berbagai kisah yang diriwayatkan dalam buku-buku Islam. Ia juga berbicara bagaimana seseorang akan mengakhiri hidupnya sesuai dengan masa lalunya secara lahir batin.

Perjalanan ke rumah sakit terasa singkat oleh pembicaraan kami tentang kematian. Pembicaraan itu makin sempurna gambarannya tatkala ingat bahwa kami sedang membawa mayat.

Tiba-tiba aku menjadi takut mati. Peristiwa ini benar-benar memberi pelajaran berharga bagiku. Hari itu, aku shalat kusyu’ sekali.

Tetapi perlahan-lahan aku mulai melupakan peristiwa itu.

Aku kembali pada kebiasaanku semula…Aku seperti tak pemah menyaksikan apa yang menimpa dua orang yang tak kukenal beberapa waktu lalu. Tetapi sejak saat itu, aku memang benar-benar menjadi benci kepada yang namanya lagu-lagu. Aku tak mau tenggelam menikmatinya seperti sedia kala. Mungkin itu ada kaitannya dengan lagu yang pemah kudengar dari dua orang yang sedang sekarat dahulu.

* Kejadian Yang Menakjubkan… Selang enam bulan dari peristiwa mengerikan itu…sebuah kejadian menakjubkan kembali terjadi di depan mataku.

Seseorang mengendarai mobilnya dengan pelan, tetapi tiba-tiba mobilnya mogok di sebuah terowongan menuju kota.

Ia turun dari mobilnya untuk mengganti ban yang kempes. Ketika ia berdiri di belakang mobil untuk menurunkan ban serep, tiba-tiba sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menabraknya dari arah belakang. Lelaki itu pun langsung tersungkur seketika.

Aku dengan seorang kawan, -bukan yang menemaniku pada peristiwa yang pertama- cepat-cepat menuju tempat kejadian. Dia kami bawa dengan mobil dan segera pula kami menghubungi rumah sakit agar langsung mendapatpenanganan.

Dia masih muda, dari tampangnya, ia kelihatan seorang yang ta’at menjalankan perintah agama.

Ketika mengangkatnya ke mobil, kami berdua cukup panik, sehingga tak sempat memperhatikan kalau ia menggumamkan sesuatu. Ketika kami membujurkannya di dalam mobil, kami baru bisa membedakan suara yang keluar dari mulutnya.

Ia melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an…dengan suara amat lemah.

“Subhanallah! ” dalam kondisi kritis seperti , ia masih sempat melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran? Darah mengguyur seluruh pakaiannya; tulang-tulangnya patah, bahkan ia hampir mati.

Dalam kondisi seperti itu, ia terus melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan suaranya yang merdu. Selama hidup aku tak pernah mendengar suara bacaan Al Quran seindah itu. Dalam batin aku bergumam sendirian: “Aku akan menuntun membaca syahadat sebagaimana yang dilakukan oleh temanku terdahulu… apalagi aku Sudah punya pengalaman,” aku meyakinkan diriku sendiri.

Aku dan kawanku seperti kena hipnotis mendengarkan suara bacaan Al-Qur’an yang merdu itu. Sekonyong-konyong tubuhku merinding menjalar dan menyelusup ke setiap rongga.

Tiba-tiba suara itu berhenti. Aku menoleh ke belakang. Kusaksikan dia mengacungkan jari telunjuknya lalu bersyahadat. Kepalanya terkulai, aku melompat ke belakang. Kupegang tangannya, detak jantungnya nafasnya, tidak ada yang terasa. Dia telah meninggal dunia.

Aku lalu memandanginya lekat-lekat, air mataku menetes, kusembunyikan tangisku, takut diketahui kawanku. Kukabarkan kepada kawanku kalau pemuda itu telah wafat. Kawanku tak kuasa menahan tangisnya. Demikian pula halnya dengan diriku. Aku terus menangis, air mataku deras mengalir. Suasana dalam mobil betul-betul sangat mengharukan.

Sampai di rumah sakit…

Kepada orang-orang di sanal kami mengabarkan perihal kematian pemuda itu dan peristiwa menjelang kematiannya yang menakjubkan. Banyak orang yang terpengaruh dengan kisah kami, sehingga tak sedikit yang meneteskan air mata. Salah seorang dari mereka, demi mendengar kisahnya, segera menghampiri jenazah dan mencium keningnya.

Semua orang yang hadir memutuskan untuk tidak beranjak sebelum mengetahui secara pasti kapan jenazah akan dishalatkan. Mereka ingin memberi penghormatan terakhir kepada jenazah, semua ingin ikut menyalatinya.

Salah seorang petugas tumah sakit menghubungi rumah almarhum. Kami ikut mengantarkan jenazah hingga ke rumah keluarganya. Salah seorang saudaranya mengisahkan ketika kecelakaan, sebetulnya almarhum hendak menjenguk neneknya di desa. Pekerjaan itu rutin ia lakukan setiap hari Senin. Di sana, almarhum juga menyantuni para janda, anak yatim dan orang-orang miskin. Ketika tejadi kecelakaan, mobilnya penuh dengan beras, gula, buah-buahan dan barang-barang kebutuhan pokok lainnya. Ia juga tak lupa membawa buku-buku agama dan kaset-kaset pengajian. Semua itu untuk dibagi-bagikan kepada orang-orang yang ia santuni. Bahkan ia juga membawa permen untuk dibagi-bagikan kepada anak-anak kecil.

Bila ada yang mengeluhkan-padanya tentang kejenuhan dalam pejalanan, ia menjawab dengan halus. “Justru saya memanfaatkan waktu perjalananku dengan menghafal dan mengulang-ulang bacaan Al-Qur’an, juga dengan mendengarkan kaset-kaset pengajian, aku mengharap ridha Allah pada setiap langkah kaki yang aku ayunkan,” kata almarhum.

Aku ikut menyalati jenazah dan mengantarnya sampai ke kuburan.

Dalam liang lahat yang sempit, almarhum dikebumikan. Wajahnya dihadapkan ke kiblat.

“Dengan nama Allah dan atas ngama Rasulullah”.

Pelan-pelan, kami menimbuninya dengan tanah…Mintalah kepada Allah keteguhan hati saudaramu, sesungguhnya dia akan ditanya…

Almarhum menghadapi hari pertamanya dari hari-hari akhirat…

Dan aku… sungguh seakan-akan sedang menghadapi hari pertamaku di dunia. Aku benar-benar bertaubat dari kebiasaan burukku. Mudah-mudahan Allah mengampuni dosa-dosaku di masa lalu dan meneguhkanku untuk tetap mentaatinya, memberiku kesudahan hidup yang baik (khusnul khatimah) serta menjadikan kuburanku dan kuburan kaum muslimin sebagai taman-taman Surga. Amin…(Azzamul Qaadim, hal 36-42)

Sumber : [“Saudariku Apa yang Menghalangimu Untuk Berhijab”; judul asli Kesudahan yang Berlawanan; Asy Syaikh Abdul Hamid Al-Bilaly; Penerbit : Akafa Press Hal. 48]

https://id-id.facebook.com/permalink.php?story_fbid=259988857389543&id=255291094525986

Copyright @ 2013 Ats Tsaani .