SETRATEGIKU DALAM MENGHAFAL AL QUR’AN
Oleh
: Nida’ul Khasanah
Namaku Nida’ul
Khasanah, biasa dipanggil Nida’ asal dari Karangwuni, Sukoharjo. Angkatan
pertama Rumah Tahfizh Ats Tsaani. Motivasiku menghafal al Qur’an awalnya untuk
bisa mengajari anakku menghafal al Qur’an. Malulah kalau anaknya hafal tetapi
orang tuanya gak hafal. Orang tua harus menjadi teladan yang baik bagi anaknya.
Sebenarnya
saya tidak pernah berpikir untuk menjadi penghafal al Qur’an karena saya
menyadari bahwa saya dari dulu lemah dalam pelajaran khususnya yang banyak
hafalannya. Sudah bisa membaca al Qur’an sesuai tajwid saja sudah bersyukur.
Tetapi kini pandangan saya berubah setelah mengetahui keutamaannya dan selama
proses menghafal juz 30. Tetapi jalan untuk mencapainya sangat sulit, berat,
dan perlu istiqomah. Saya tahu kelemahan saya, tetapi kalau tidak dipaksakan
tidak akan pernah saya bisa menghafal al Qur’an.
Berbagai macam
cara telah saya coba, mungkin kurang sesuai dengan petunjuk Rumah Tahfizh Ats
Tsaani. Pengalaman yang pernah saya lakukan antara lain:
1.
Membaca satu halaman
berkali-kali, setelah lelah berhenti. Kalau belum hafal besoknya dibaca lagi.
2.
Sama dengan cara sebelumnya
tetapi ditambah mendengarkan murottal.
3.
Sehari satu ayatatau satu
baris dibaca 40 kali. Setiap hafal satu ayat ditambah mengulang hafalan
sebelumnya.
Dari beberapa
cara tersebut, cara ke-1 danke- 2 bila istiqomah rata-rata saya menghafal satu
halaman saja dalam satu minggu. Cara kedua menambah kelancaran saja (maaf kemampuan mentok segitu).
Sedangkan cara ke-3 tidak terlalu berat dalam menghafal, ringan tenaga yang
dikeluarkan, hanya saja dalam satu minggu tidak sampai satu halaman.
Beberapa
masalah yang saya hadapi dari awal menghafal sampai sekarang antara lain :
1.
Mengatur waktu yang tepat
untuk menghafal, karena saya sering diganggu anak. Maklum masih bayi, saya
siasati dengan menghafal pagi hari sebelum aktivitas.
2.
Ketika kelelahan membaca,
terasa pusing. Saya berhenti sebentar lalu dibaca lagi kalau sudah tak pusing.
3.
Marah, sudah dibaca
berkali-kali kok nggak masuk di kepala akhirnya saya baca satu ayat saja sampai
hafal.
4.
Mengalami kejenuhan. Saya
atasi dengan membaca bukuuntuk memunculkan semangat lagi. Bisa juga dengan
mengingat teman-teman yang hafalannya lebih banyak.
Dari cerita
pribadi saya ini, masih banyak kekurangan yang saya miliki. Untuk itu perlu dorongan
dan do’a dari teman-teman semua agar bisa istiqomah. Terima kasih kepada suami,
teman-teman, dan ustadzah Yuni yang selalu mendo’akan dan memberi semangat
kepada saya.
Sedikit pesan
yntuk teman semua : “Paksakan dirimu untuk melakukan kebaikan agar tubuhmu,
hatimu, terbiasa melakukannya. Meskipun saat ini berat, jika biasakan pasti
suatu saat akan terasa ringan dan ikhlas melakukannya.” Semoga bermanfaat.
0 komentar :
Posting Komentar