Maklumat

Bismillaahirrahmaanirrahiim. Assalaamu'alaikum Wr. Wb.

Sekedar informasi bahwa blog ini kami buat sebagai sarana penunjang proses belajar mengajar tahfizh di rumah tahfizh Ats Tsaani sekaligus media informasi dan perekat hubungan kami dengan seluruh santri pada khususnya dan ummat Islam pada umumnya. Seluruh artikel yang ada dimaksudkan untuk berbagi ilmu sehingga diperbolehkan untuk copas asal menyebutkan sumbernya dan tidak untuk komersial. Harap maklum. Wassalaamu'alaikum Wr.Wb.

Jumat, 01 April 2016

Filled Under:

Santri Tahfizh Berbagi Pengalaman (2)



SETRATEGIKU DALAM MENGHAFAL AL QUR’AN


Oleh : Nida’ul Khasanah

Namaku Nida’ul Khasanah, biasa dipanggil Nida’ asal dari Karangwuni, Sukoharjo. Angkatan pertama Rumah Tahfizh Ats Tsaani. Motivasiku menghafal al Qur’an awalnya untuk bisa mengajari anakku menghafal al Qur’an. Malulah kalau anaknya hafal tetapi orang tuanya gak hafal. Orang tua harus menjadi teladan yang baik bagi anaknya.
Sebenarnya saya tidak pernah berpikir untuk menjadi penghafal al Qur’an karena saya menyadari bahwa saya dari dulu lemah dalam pelajaran khususnya yang banyak hafalannya. Sudah bisa membaca al Qur’an sesuai tajwid saja sudah bersyukur. Tetapi kini pandangan saya berubah setelah mengetahui keutamaannya dan selama proses menghafal juz 30. Tetapi jalan untuk mencapainya sangat sulit, berat, dan perlu istiqomah. Saya tahu kelemahan saya, tetapi kalau tidak dipaksakan tidak akan pernah saya bisa menghafal al Qur’an.
Berbagai macam cara telah saya coba, mungkin kurang sesuai dengan petunjuk Rumah Tahfizh Ats Tsaani. Pengalaman yang pernah saya lakukan antara lain:
1.         Membaca satu halaman berkali-kali, setelah lelah berhenti. Kalau belum hafal besoknya dibaca lagi.
2.         Sama dengan cara sebelumnya tetapi ditambah mendengarkan murottal.
3.         Sehari satu ayatatau satu baris dibaca 40 kali. Setiap hafal satu ayat ditambah mengulang hafalan sebelumnya.
Dari beberapa cara tersebut, cara ke-1 danke- 2 bila istiqomah rata-rata saya menghafal satu halaman saja dalam satu minggu. Cara kedua menambah kelancaran  saja (maaf kemampuan mentok segitu). Sedangkan cara ke-3 tidak terlalu berat dalam menghafal, ringan tenaga yang dikeluarkan, hanya saja dalam satu minggu tidak sampai satu halaman.
Beberapa masalah yang saya hadapi dari awal menghafal sampai sekarang antara lain :
1.         Mengatur waktu yang tepat untuk menghafal, karena saya sering diganggu anak. Maklum masih bayi, saya siasati dengan menghafal pagi hari sebelum aktivitas.
2.         Ketika kelelahan membaca, terasa pusing. Saya berhenti sebentar lalu dibaca lagi kalau sudah tak pusing.
3.         Marah, sudah dibaca berkali-kali kok nggak masuk di kepala akhirnya saya baca satu ayat saja sampai hafal.
4.         Mengalami kejenuhan. Saya atasi dengan membaca bukuuntuk memunculkan semangat lagi. Bisa juga dengan mengingat teman-teman yang hafalannya lebih banyak.
Dari cerita pribadi saya ini, masih banyak kekurangan yang saya miliki. Untuk itu perlu dorongan dan do’a dari teman-teman semua agar bisa istiqomah. Terima kasih kepada suami, teman-teman, dan ustadzah Yuni yang selalu mendo’akan dan memberi semangat kepada saya.
Sedikit pesan yntuk teman semua : “Paksakan dirimu untuk melakukan kebaikan agar tubuhmu, hatimu, terbiasa melakukannya. Meskipun saat ini berat, jika biasakan pasti suatu saat akan terasa ringan dan ikhlas melakukannya.” Semoga bermanfaat.

0 komentar :

Copyright @ 2013 Ats Tsaani .