Adab-adab dalam Bertalaqqi/Belajar
Al-Qur’an
Adab-adab dalam bertalaqqi/belajar Al-Qur’an menurut Imam An-Nawawi dalam At Tibyan fi Hamalatil
Qur’an adalah:
1.
Dalam kegiatan belajar mengajar Al-Qur’an, baik guru maupun murid harus
memiliki keikhlasan yang penuh, hanya mengharapkan keridhaan Allah semata.
Allah berfirman:
وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ
لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ
دِينُ الْقَيِّمَةِ
“Dan
tiadalah mereka diperintahkan kecuali agar mereka beribadah kepada Allah,
ikhlash karenanya dalam menjalankan agama…” (QS. Al-Bayyinah: 5)
Rasulullah
bersabda:
“Semata-mata
perbuatan itu tergantung pada niatnya, dan bagi setiap orang apa yang ia
niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ibnu
Abbas berkata:
“Semata-mata
seorang itu akan terjaga sesuai dengan ukuran niatnya.”
Fudhail
bin ‘Iyadh berkata:
“Meninggalkan
suatu perbuatan karena manusia adalah perbuatan riya’. Melakukan sesuatu karena
manusia adalah syirik. Sedangkan ikhlash adalah tatkala Allah menjaga anda dari
dua penyakit di atas.”
2.
Guru dan murid tidak boleh menjadikan talaqqi Al-Qur’an sebagai sarana untuk
mengharapkan atau mendambakan dunia, sehingga jika kegiatan tersebut tidak
menjanjikan materi, ia enggan melakukannya.
3.
Seorang guru harus amanah dalam mengajarkan Al-Qur’an kepada muridnya, jangan
sampai ia membiarkan muridnya melakukan kesalahan. Karena dikhawatirkan suatu
saat ia akan mengajarkan muridnya dalam keadaan salah.
4.
Seorang guru tidak boleh mendambakan semua orang belajar kepadanya dan tidak
belajar kepada guru yang lain. Hindarilah rasa benci dan kesal jika mendapatkan
murid yang belajar kepada guru yang lain. Penyakit ini banyak menimpa para guru
yang jahil. Ini suatu bukti bahwa niat mengajarnya salah dan tidak karena Allah
subhanahu wa ta’ala. Seharusnya ia mengatakan,
“Aku mengajar dengan tujuan ibadah, dan ini telah aku dapatkan. Jika
ada muridku pindah belajar kepada guru yang lain, maka ia akan mendapatkan
tambahan ilmu. Semoga ilmunya menjadi ilmu yang bermanfaat.”
Inilah
teladan dari Imam Syafi’i yang pernah berkata,
“Aku
ingin orang yang telah mempelajari ilmu (yang telah aku ajarkan) ini tidak
menganggap ilmu tersebut didapat dariku, walaupun hanya satu huruf.”
5.
Guru dan murid harus berakhlaq mulia, sabar tawadhu’, tidak banyak bercanda dan
berisik, tidak hasud dan ‘ujub (berbangga diri), serta banyak mengamalkan
amalan sunnah, berdzikir, bertasbih, berdo’a, dan muraqabatullah (selalu merasa
diawasi oleh Allah).
6.
Seorang guru harus bersikap lemah lembut kepada muridnya, menyambutnya dan
berbuat baik kepadanya. Rasulullah bersabda kepada para sahabatnya:
“Sesungguhnya
masyarakat itu adalah pengikut kalian
dan sesungguhnya terdapat orang-orang yang akan mendatangi kalian dari
pelosok negeri untuk mendalami ilmu agama. Apabila mereka datang kepada kalian
perlakukanlah dengan baik.” (H.R.
Tirmidzi)
7.
Seorang guru harus banyak memberi nasehat dan motivasi kepada muridnya.
Rasulullah bersabda kepada para sahabatnya:
“Agama
itu nasehat.” “Bagi siapa ya Rasul?” Beliau menjawab, “Bagi Allah, Kitabnya,
Rasulnya, para imam muslim dan kaum muslimin pada umumnya.” (H.R. Muslim)
Yang
dimaksud dengan nasehat bagi Allah adalah meyakini ke-Maha Tunggal-an Allah dan
ikhlas dalam beribadah kepadanya. Nasehat bagi kitabnya adalah dengan
mengamalkan isinya. Nasehat bagi Rasul-Nya yakni mengikuti perintah dan
menjauhi larangannya. Nasehat bagi imam muslim dan kaum muslimin pada umumnya
yaitu dengan mengarahkan mereka kepada jalan yang benar.
8.
Seorang guru tidak boleh merasa besar di hadapan muridnya, melainkan harus
lemah lembut, hormat dan tidak merendahkan mereka. Rasulullah bersabda:
“Bersikap
lemah lembut kepada orang yang kamu ajari dan orang yang sedang belajar
darinya.” (HR. Ibnu Suni)
9.
Seorang murid harus hormat kepada guru, betapapun ia melihat kekurangan
gurunya. Ali bin Abi Thalib berkata:
“Aku
bagaikan hamba sahaya bagi orang telah mengajariku walaupun satu huruf.”
Jangan
pernah menceritakan ketidakpuasan terhadap gurungnya kepada orang lain. Hal
tersebut adalah ghibah, apalagi dilakukan terhadap gurunya. Sungguh, perbuatan
ini menjadikan ilmu tidak bermanfaat. Rasulullah bersabda:
“Ya
Allah, aku berlindung diri kepadamu dari ilmu yang tidak bermanfaat.”
10.
Seorang murid harus sabr menghadapi sikap keras gurunya, karena boleh jadi
ketika marah tersebut gurunya sedang lelah atau memikirkan suatu masalah.
Berpikirlah positif, bahwa seorang guru tidak mungkin benci kepada muridnya.
Jadi, murid harus siap seakan-akan hina di depan gurunya. Ibnu Abbas berkata:
“Dulu
aku hina ketika mencari (menjadi murid), kini aku mulia setelah dicari (menjadi
guru).”
Seorang
penyair berkata:
“Seseorang
yang tidak pernah merasakan kehinaan sesaat (menuntut ilmu) akan hina
sepanjang masa.”

0 komentar :
Posting Komentar