Maklumat

Bismillaahirrahmaanirrahiim. Assalaamu'alaikum Wr. Wb.

Sekedar informasi bahwa blog ini kami buat sebagai sarana penunjang proses belajar mengajar tahfizh di rumah tahfizh Ats Tsaani sekaligus media informasi dan perekat hubungan kami dengan seluruh santri pada khususnya dan ummat Islam pada umumnya. Seluruh artikel yang ada dimaksudkan untuk berbagi ilmu sehingga diperbolehkan untuk copas asal menyebutkan sumbernya dan tidak untuk komersial. Harap maklum. Wassalaamu'alaikum Wr.Wb.

Rabu, 30 September 2015

Laporan Keuangan Wisuda Tahfizh Perdana


 
LAPORAN KEUANGAN WISUDA PERDANA
RUMAH TAHFIZH ATS TSAANI


















PEMASUKAN
















1
Donatur




2.754.000


2
Iuran Wisudawati



550.000


3
Saldo Tahsin



191.500


4
infaq




308.000


5
Iklan pak Taufiq



20.000












Jumlah





3.823.500










PENGELUARAN
















1
Subsidi Seragam



317.000


2
Kesekretariatan



110.600


3
Pembelian hadiah



192.650


4
Pembuatan Majalah



1.000.000


5
Samir, MMT, Mug



650.000


6
Transportasi



50.000


7
door prize




100.000


8
sewa perlengkapan



50.000


9
Konsumsi




1.000.000


10
Insentif panitia inti



150.000


11
Pembuatan piagam



46.000












Jumlah





3.666.250




















Saldo (masuk kas)




157.250

Selasa, 08 September 2015

Santri Tahfizh Berbagi Pengalaman (1)



STRATEGIKU DALAM MENGHAFAL AL QUR’AN




Oleh : Rosiena Retno Suryani *
(Santri Tahfizh di Rumah Tahfizh Ats Tsaani dan Pemilik Sanggar Kreatifitas Nisrina)


Abdullaah bin Amru bin Al Ash r.a berkata, bersabda Rasulullaah Saw : “Akan diperintahkan kepada orang ahlil Qur’an pada hari qiyamat, “Bacalah dan terus naik, dan bacalah dengan tartil sebagaimana dahulu kau membaca di dunia, sesungguhnya tempatmu pada akhir ayat yang kau membacanya.” (HR Abu Dawud, At Tirmidzi)

                Ucapan Rasulullaah di atas, menjadi salah satu penyemangat bagiku, untuk senantiasa menambah hafalan al Qur’an. Siapa yang tidak mau menempati derajat yang mulia di akhirat kelak? Sementara tak ada yang bisa dibanggakan di hadapan Allah; banyaknya anak, harta atau jabatan. Melainkan amal kebaikan, juga yang terbaik dalam memuliakan al Qur’an.
                Meski usiaku kini telah berkepala empat, tapi bagiku tak ada kata terlambat untuk memulai sebuah kebaikan. Meski waktu-waktuku telah penuh dengan kesibukan mengurus keluarga dengan 5 anak, mengurus usaha, juga amanah di beberapa organisasi, tak pantas rasanya jika aku tak menyempatkan untuk menambah hafalan al Qur’an. Sebab Allah telah limpahkan begitu banyak kenikmatan, kemudahan, dan waktu luang.
                Alhamdulillaah Allah memberiku kemudahan untuk menghafal, setidaknya aku tak butuh waktu terlalu lama untuk menghafalkan ayat demi ayat al Qur’an, hingga metode al Qosimi yang dijalankan di Rumah Tahfizh Ats Tsaani sangatlah cukup untuk bisa menjadikan ayat-ayat al Qur’an menempel di ingatanku. Kondisi ini sangat aku syukuri, untuk itu aku harus segera memanfaatkan kesempatan ini, sebelum kelemahan dating menghampiri.
                Disisi lain, pastilah ada rintangan dan hambatan yang senantiasa menghampiri. Bahkan untuk mempertahankan hafalan juz 30 pun, rasa-rasanya bukan amanah yang ringan. Manakala ada pekerjaan-pekerjaan lain yang harus diprioritaskan atau urusan-urusan yang membutuhkan konsentrasi dan pemikiran, terkadang menyebabkan rutinitas tilawah dan muroja’ah menjadi berantakan, apalagi menambah hafalan. Ahamdulillaah tsumma alhamdulillaah. Aku memiliki lingkungan yang sangat mendukung dan senantiasa menguatkan. Keluarga dengan anak-anak dan suami yang setiap hari juga memiliki pe-er hafalan, membuat kami tak pernah jauh dari lantunan ayat-ayat al Qur’an. Teman-teman dan juga binaan di majlis-majlis halaqoh dan ta’lim, menjadi penguat untuk tak pernah melewati muroja’ah setiap pecan. Dan yang menjadi pendukung utamaku saat ini adalah Rumah Tahfizh Ats Tsaani, beserta ustadzah Yuni juga teman-teman santriwati rumah tahfizh tentunya, yang senantiasa mengingatkan, memutaba’ahi, dan menjadi tempatku menyetorkan hafalan. Semuanya adalah kekuatan yang diberikan oleh Allah yang tak boleh disia-siakan.
                Ketika seorang teman bertanya, “Kapan kamu punya waktu untuk menghafal?” Aku pun merasa bingung menjawabnya. Wallaahu a’lam. Aku tak punya waktu-waktu khusus untuk menghafal. Kecuali sedikit dari waktu malam yang aku sediakan untuk menyelesaikan pekerjaanku yang tak mampu kuselesaikan pada pagi hingga sore hari. Selebihnya aku menghafal di sela-sela kesibukanku; menyusui anak, menunggu antrian, terkadang memasak sambil mendengarkan murottal. Ya, waktu menyusui adalah waktu efektifku untuk menghafal dan muroja’ah. Hingga ketika anak bungsuku yang berumur satu tahun meminta ASI, aku pun kemudian mencari handphoneku yang kuisi dengan fitur al Qur’an. Sehingga aku pun menghantarkan tidurnya dengan lantunan ayat al Qur’an. Semoga ini mendatangkan berkah dan kebaikan dari Allah.
                Waktu adalah kehidupan itu sendiri. Adapun hidup yang Allah berikan adalah kesempatan bagi kita untuk beribadah kepada Allah. Oleh karena itu, orang yang memahami makna kehidupan tidak akan menyia-nyiakan waktunya untuk hal-hal yang tidak ada manfaatnya. Ini menjadi salah satu slogan saya, hingga saya memutuskan untuk menjadikan aktifitas menghafal al Qur’an sebagai bagian dari ibadah saya dalam mengisis waktu dan kehidupan yang Allah berikan kepadaku di dunia. Menggantikan aktifitas-aktifitas lain yang tiada manfaatnya.
                Aku merasa ada kebahagiaan tersendiri, ketika melantunkan ayat-ayat al Qur’an dengan cara menghafal di luar kepala, bukan membaca. Tidak ada beban di kepala, seperti yang orang-orang bayangkan. Memang ada proses yang berat dan panjang untuk bisa menghafalkan, juga mempertahankan hafalan, tapi semua akan terasa ringan jika kita menyenangi sebuah pekerjaan, termasuk menghafal al Qur’an.
                Aku pun merasa bahagia dan bangga menjadi bagian dari hamba Allah yang punya cita-cita menjadi seorang hafizhah, dan aku pasti akan sangat menyesal jika aku tidak istiqomah dan komitmen dengan cita-citaku. Karena dengan inilah aku punya harapan besar untuk kebahagiaan dunia dan akhiratku. Malu rasanya, menulis pengalaman yang masih jauh dari ideal dan harapan, namun dengan seperti ini  aku menjadi terpacu untuk menata diri lebih baik lagi, mengalokasikan waktu lebih banyak lagi untuk berinteraksi lebih dekat kepada Al Qur’an. Bukankah kita tidak pernah tahu kapan ajal akan datang, sehingga waktu yang diberikan Allah harus sepenuhnya dimanfaatkan.
                Kebahagiaan, kemudahan, keinginan untuk meraih kemuliaan, ini semua yang senantiasa menjadi penyemangat bagiku untuk terus melangkah mewujudkan cita-citaku. Yang bisa kulakukan saat ini adalah berikhtiar dengan penuh semangat, istiqomah untuk mencapai cita-cita. Adapun hasil, sepenuhnya kuserahkan pada Allah. Semoga langkah-langkah kecilku membawaku dan keluargaku pada kemuliaan hingga di akhirat kelak. Amiin.

Copyright @ 2013 Ats Tsaani .