|
LAPORAN KEUANGAN WISUDA PERDANA
|
||||||||
|
RUMAH TAHFIZH ATS TSAANI
|
||||||||
|
PEMASUKAN
|
||||||||
|
1
|
Donatur
|
2.754.000
|
||||||
|
2
|
Iuran Wisudawati
|
550.000
|
||||||
|
3
|
Saldo Tahsin
|
191.500
|
||||||
|
4
|
infaq
|
308.000
|
||||||
|
5
|
Iklan pak Taufiq
|
20.000
|
||||||
|
Jumlah
|
3.823.500
|
|||||||
|
PENGELUARAN
|
||||||||
|
1
|
Subsidi Seragam
|
317.000
|
||||||
|
2
|
Kesekretariatan
|
110.600
|
||||||
|
3
|
Pembelian hadiah
|
192.650
|
||||||
|
4
|
Pembuatan Majalah
|
1.000.000
|
||||||
|
5
|
Samir, MMT, Mug
|
650.000
|
||||||
|
6
|
Transportasi
|
50.000
|
||||||
|
7
|
door prize
|
100.000
|
||||||
|
8
|
sewa perlengkapan
|
50.000
|
||||||
|
9
|
Konsumsi
|
1.000.000
|
||||||
|
10
|
Insentif panitia inti
|
150.000
|
||||||
|
11
|
Pembuatan piagam
|
46.000
|
||||||
|
Jumlah
|
3.666.250
|
|||||||
|
Saldo (masuk kas)
|
157.250
|
|||||||
Rabu, 30 September 2015
Laporan Keuangan Wisuda Tahfizh Perdana
Posted By:
PPTQ Ats Tsaani Surakarta
on
12.30
Selasa, 08 September 2015
Santri Tahfizh Berbagi Pengalaman (1)
Posted By:
PPTQ Ats Tsaani Surakarta
on
12.14
STRATEGIKU DALAM MENGHAFAL AL QUR’AN
Oleh : Rosiena Retno Suryani *
(Santri Tahfizh di Rumah Tahfizh Ats
Tsaani dan Pemilik Sanggar Kreatifitas Nisrina)
Abdullaah bin Amru bin Al Ash r.a
berkata, bersabda Rasulullaah Saw : “Akan diperintahkan kepada orang ahlil
Qur’an pada hari qiyamat, “Bacalah dan terus naik, dan bacalah dengan tartil
sebagaimana dahulu kau membaca di dunia, sesungguhnya tempatmu pada akhir ayat
yang kau membacanya.” (HR Abu Dawud, At Tirmidzi)
Ucapan
Rasulullaah di atas, menjadi salah satu penyemangat bagiku, untuk senantiasa
menambah hafalan al Qur’an. Siapa yang tidak mau menempati derajat yang mulia
di akhirat kelak? Sementara tak ada yang bisa dibanggakan di hadapan Allah;
banyaknya anak, harta atau jabatan. Melainkan amal kebaikan, juga yang terbaik
dalam memuliakan al Qur’an.
Meski
usiaku kini telah berkepala empat, tapi bagiku tak ada kata terlambat untuk
memulai sebuah kebaikan. Meski waktu-waktuku telah penuh dengan kesibukan mengurus
keluarga dengan 5 anak, mengurus usaha, juga amanah di beberapa organisasi, tak
pantas rasanya jika aku tak menyempatkan untuk menambah hafalan al Qur’an.
Sebab Allah telah limpahkan begitu banyak kenikmatan, kemudahan, dan waktu
luang.
Alhamdulillaah
Allah memberiku kemudahan untuk menghafal, setidaknya aku tak butuh waktu
terlalu lama untuk menghafalkan ayat demi ayat al Qur’an, hingga metode al
Qosimi yang dijalankan di Rumah Tahfizh Ats Tsaani sangatlah cukup untuk bisa
menjadikan ayat-ayat al Qur’an menempel di ingatanku. Kondisi ini sangat aku
syukuri, untuk itu aku harus segera memanfaatkan kesempatan ini, sebelum
kelemahan dating menghampiri.
Disisi
lain, pastilah ada rintangan dan hambatan yang senantiasa menghampiri. Bahkan
untuk mempertahankan hafalan juz 30 pun, rasa-rasanya bukan amanah yang ringan.
Manakala ada pekerjaan-pekerjaan lain yang harus diprioritaskan atau
urusan-urusan yang membutuhkan konsentrasi dan pemikiran, terkadang menyebabkan
rutinitas tilawah dan muroja’ah menjadi berantakan, apalagi menambah hafalan.
Ahamdulillaah tsumma alhamdulillaah. Aku memiliki lingkungan yang sangat
mendukung dan senantiasa menguatkan. Keluarga dengan anak-anak dan suami yang
setiap hari juga memiliki pe-er hafalan, membuat kami tak pernah jauh dari
lantunan ayat-ayat al Qur’an. Teman-teman dan juga binaan di majlis-majlis
halaqoh dan ta’lim, menjadi penguat untuk tak pernah melewati muroja’ah setiap
pecan. Dan yang menjadi pendukung utamaku saat ini adalah Rumah Tahfizh Ats
Tsaani, beserta ustadzah Yuni juga teman-teman santriwati rumah tahfizh
tentunya, yang senantiasa mengingatkan, memutaba’ahi, dan menjadi tempatku
menyetorkan hafalan. Semuanya adalah kekuatan yang diberikan oleh Allah yang
tak boleh disia-siakan.
Ketika
seorang teman bertanya, “Kapan kamu punya waktu untuk menghafal?” Aku pun
merasa bingung menjawabnya. Wallaahu a’lam. Aku tak punya waktu-waktu khusus
untuk menghafal. Kecuali sedikit dari waktu malam yang aku sediakan untuk
menyelesaikan pekerjaanku yang tak mampu kuselesaikan pada pagi hingga sore
hari. Selebihnya aku menghafal di sela-sela kesibukanku; menyusui anak,
menunggu antrian, terkadang memasak sambil mendengarkan murottal. Ya, waktu
menyusui adalah waktu efektifku untuk menghafal dan muroja’ah. Hingga ketika
anak bungsuku yang berumur satu tahun meminta ASI, aku pun kemudian mencari
handphoneku yang kuisi dengan fitur al Qur’an. Sehingga aku pun menghantarkan
tidurnya dengan lantunan ayat al Qur’an. Semoga ini mendatangkan berkah dan
kebaikan dari Allah.
Waktu
adalah kehidupan itu sendiri. Adapun hidup yang Allah berikan adalah kesempatan
bagi kita untuk beribadah kepada Allah. Oleh karena itu, orang yang memahami
makna kehidupan tidak akan menyia-nyiakan waktunya untuk hal-hal yang tidak ada
manfaatnya. Ini menjadi salah satu slogan saya, hingga saya memutuskan untuk
menjadikan aktifitas menghafal al Qur’an sebagai bagian dari ibadah saya dalam
mengisis waktu dan kehidupan yang Allah berikan kepadaku di dunia. Menggantikan
aktifitas-aktifitas lain yang tiada manfaatnya.
Aku
merasa ada kebahagiaan tersendiri, ketika melantunkan ayat-ayat al Qur’an
dengan cara menghafal di luar kepala, bukan membaca. Tidak ada beban di kepala,
seperti yang orang-orang bayangkan. Memang ada proses yang berat dan panjang
untuk bisa menghafalkan, juga mempertahankan hafalan, tapi semua akan terasa
ringan jika kita menyenangi sebuah pekerjaan, termasuk menghafal al Qur’an.
Aku
pun merasa bahagia dan bangga menjadi bagian dari hamba Allah yang punya
cita-cita menjadi seorang hafizhah, dan aku pasti akan sangat menyesal jika aku
tidak istiqomah dan komitmen dengan cita-citaku. Karena dengan inilah aku punya
harapan besar untuk kebahagiaan dunia dan akhiratku. Malu rasanya, menulis
pengalaman yang masih jauh dari ideal dan harapan, namun dengan seperti ini aku menjadi terpacu untuk menata diri lebih
baik lagi, mengalokasikan waktu lebih banyak lagi untuk berinteraksi lebih
dekat kepada Al Qur’an. Bukankah kita tidak pernah tahu kapan ajal akan datang,
sehingga waktu yang diberikan Allah harus sepenuhnya dimanfaatkan.
Kebahagiaan,
kemudahan, keinginan untuk meraih kemuliaan, ini semua yang senantiasa menjadi
penyemangat bagiku untuk terus melangkah mewujudkan cita-citaku. Yang bisa
kulakukan saat ini adalah berikhtiar dengan penuh semangat, istiqomah untuk
mencapai cita-cita. Adapun hasil, sepenuhnya kuserahkan pada Allah. Semoga
langkah-langkah kecilku membawaku dan keluargaku pada kemuliaan hingga di
akhirat kelak. Amiin.
Langganan:
Postingan
(
Atom
)

