TESTIMONI DARI SANTRI TAHFIZH
ANGKATAN PERDANA
1.
Rosiena
Retno Suryani (Pemilik Sanggar Kreativitas Nisrina)
Alhamdulillaah
semenjak bergabung di rumah tahfidz Ats Tsaani, saya sekeluarga menjadi lebih
semangat menghafal al Qur’an, semoga tidak hanya “one home one hafidz” tapi
“one home all hafidz”.
Sebelum
mengikuti kegiatan tahfidz Ats Tsaani, menjadi penghafal al Qur’an sepertinya
hanya mimpi/angan-angan. Namun semenjak bergabung dengan rumah tahfidz Ats
Tsaani, impian itu selangkah demi selangkah Insya Allah kan menjadi kenyataan.
2.
Ardhani
Wishnu Adhityasanti (Alumni FISIP UNS)
Alhamdulillaah
saya bisa belajar al Qur’an di lembaga ini. Karena lewat lembaga ini, menghafal
al Qur’an menjadi mudah. Saya sebelumnya merasa kesusahan dalam menghafal karena
tidak ada yang membimbing. Setiap sekolah tahfizh yang saya temui selalu tidak
sinkron dengan kegiatan saya. Tapi
akhirnya saya menemukan lembaga ini, yang sesuai dengan kegiatan dan waktu yang
saya miliki. Semoga lewat Rumah Tahfizh Ats Tsaani, cita-cita saya menjadi
penghafal al Qur’an bisa terwujud.
3.
Dian
Rosyidah (Guru)
Salah
satu cita-cita saya adalah menjadi hafizhah apapun profesinya. Sedikit demi
sedikit saya mulai menghafal. Pernah masuk ma’had tahfizh, tetapi karena
kesibukan kuliah, kerja, dan sebagainya saya memutuskan mengundurkan diri dari
ma’had tahfizh tersebut dan mencoba mandiri menghafal. Tanpa pembimbing
ternyata sangat berat. Apalagi ditambah banyaknya kesibukan yang seakan-akan
membuat tidak ada waktu menghafal. Tanpa ada motivasi dan ‘paksaan’ membuat
hafalan saya tidak bertambah bahkan berkurang.
Alhamdulillaah,
saya menemukan rumah tahfizh Ats Tsaani. Dengan waktu yang fleksibel dan ustadzah
yang selalu memotivasi, saya kembali tersemangati untuk menghafal al Qur’an.
Tentu ada rasa yang berbeda ketika semangat itu ada. Gembira, subhaanallaah…mak
nyess rasanya. Harapan itu kembali ada. Semoga Allah SWT memberi barokah atas
apa yang saya usahakan.
4.
Sarifah
Ramli (Perawat asal Sulawesi)
Pengalaman baru dalam hidup itu
merupakan proses yang alamiah. Ikut jadi peserta / anak didik rumah tahfizh hal
yang sangat-sangat luar biasa dalam perubahan hidup. Berteman dengan
wanita-wanita yang siap menjalankan perintah-Nya. Serta dapat bimbingan dari
ustadzah yang begitu sabar dan semangat memperkenalkan kita denganal Qur’an.
Hal yang memotivasi saya untuk
mempelajari agama dan memahami al Qur’an adalah orang tua. Saya ingin memberi
tempat yang istimewa untuk orang tua kelak di akhirat yaitu syurga milik Allah
SWT dengan cara menghafal dan memahami isi serta mengaplikasikan kandungan al
Qur’an. Rumah tahfizh al Qur’an, Insya Allah dapat dengan mudah menghasilkan
hafizh yang konsisten dengan hafalannya, walaupun hambatan dan tantangan pasti
selalu ada.
Dengan kerjasama antar peserta
didik rumah tahfizh Ats Tsaani semoga dapat memberi / menyebarkan virus tahfizh
ke masyarakat secara universal.
5. Nida’ul Khasanah (Ibu Rumah Tangga)
Saya ibu rumah tangga yang memiliki dua anak
yang masih balita. Setiap hari disibukkan oleh anak. Mandiin anak, menyiapkan
sarapan, pekerjaan rumah tangga, dan sebagainya. Kita sibuk dengan dunia. Pada
hal kebutuhan dunia dan akhirat harus seimbang. Karena itu saya masuk rumah tahfizh
Ats Tsaani.
Sebagaimana jasat membutuhkan makanan, ruh
pun perlu makanan pula. Makanan ruh
bukan nasi goreng, sayur, buah, tetapi al Qur’an, dan semua ibadah yang
ditujukan kepada Allah SWT semata. Sering kita bertanya “Sudah sarapan belum?”
tetapi tidak pernah terlontar dari pikiran kita “Ruhmu sudah sarapan?” Pagi
sudah terisi makanan. Tetapi ruh kita belum terisi kebutuhannya.
Mari isi ruh kita dengan al Qur’an. Perbaiki
diri kita dengan mempelajari dan mengamalkannya. Niatkan dalam hati untuk menghafalnya
dan kuatkan azam kita ketika kesempatan itu datang. Meski sulit, paksakan diri
kita untuk melakukannya, ketika sering kita lakukan Insya Allah akan terbiasa,
yang dulu berat dilakukan menjadi ringan.
Berpikir untuk bisa menghafal serasa sulit dilakukan,
tetapi ketika kita baca, baca, dan baca lagi, semua akan terekam dalam kepala
kita tanpa disadari.
6.
Siti Zulaikhah (Mahasiswi UMS)
Teringat
perkataan Nabi dalam haditsnya, “Bahwa sebaik-baik manusia adalah yang belajar
al Qur’an dan mengajarkannya”. Maka dari itu saya mengikuti belajar di rumah
tahfizh Ats Tsaani. Dengan harapan saya bisa menjadi sebaik-baik makhluk.
Menghafal al Qur’an adalah sebuah aktivitas yang mulia, di tengah kebanyakan
manusia yang mengejar prestasi duniawi saja, maka dengan menghafal Qur’an ini
semoga kita mengejar prestasi di hadapan Allah. Karena begitu banyaknya pahala
membaca al Qur’an, yang satu hurufnya 10 kebaikan, pada hal untuk menghafalnya
pastinya diulang-ulang sebanyak mungkin agar dapat berpindah ke memori otak.
Sudah
lama saya ingin menghafal al Qur’an dengan menyetorkan hafalan. Karena dengan
begitu ada semangat untuk menghafal. Jika hanya menghafal mandiri maka tidak
akan tambah-tambah. Alhamdulillaah dipertemukan di FB tentang Rumah Tahfizh Ats
Tsaani ini. Dengan berkumpul dengan orang-orang yang berkeinginan sama, yaitu
menghafal al Qur’an karena Allah semoga akan terus memberi semangat diriku
untuk terus memperbaiki diri. Dengan menghafal al Quran ini juga akan
meningkatkan pemahaman Qur’an, karena dalam menghafal terkadang membaca
artinya. Namun memang sangat kecil. Paling tidak kita berusaha untuk selalu
mempelajari al Qur’an. Semoga semakin banyak ummat Islam yang mempelajari
Qur’an dan menghafalkannya. Sehingga banyak yang faham Islam dan menjadi negeri
yang aman, tentram, dan mendapat berkah dari Allah. Aamiin
7.
Umi Mai Saroh (Accaunting)
Rumah
Tahfizh Ats Tsaani menginspirasi saya untuk terus menghafal al Qur’an, dengan
ustadzah Yuni yang selalu sabar mendengarkan hafalan ataupun muroja’ah, semakin
menambah semangat saya untuk memperbanyak hafalan.
Awalnya
sempat malu sama teman-teman atau pun adik binaan kalau pas ngisi mentoring dan
ikut ngaji karena hafalan sudah banyak yang hilang. Dan kini alhamdulillaah
sudah percaya diri lagi kalau pas ketemu mereka. Dan paling seneng kalo
ditunjuk jadi tasmi’ di tempat ngaji.
Selain
menyetorkan hafalan baru di tiap pertemuan, ada juga muroja’ah hafalan yang
kemarin, jadi semakin lancar aja hafalannya.
Dan
di rumah tahfizh inilah bisa saya temukan kembali ghiroh untuk menambah
hafalan. Di mana untuk seorang pekerja sangat susah waktunya. Tapi
alhamdulillaah berkat kerja sama semuanya, saya bisa menjalaninya. Walaupun
masih belum sesuai target tapi ini jauh lebih baik dari sebelumnya yang saya
belum dapat teman untuk menyetorkan hafalan. Semoga ustadzah Yuni selalu diberi
istiqomah dan kemudahan untuk melakukan kebaikan. Aamiin.
8. Nur Rahmawati (Mahasiswi STAIMUS)
Perjalanan itu berawal dari
sini rumah tahfidz atsaani.
Aku merupakan salah satu
dari tholibat disana, ingin menjaga apa yang telah Allah anugrahkan kepadaku
meski hafalan itu belumlah banyak tapi aku ingin menambahnya sedikit demi sedikit
agar waktu dan usia ini semakin bermakna. Dengan diketuai bapak Muhammad Ismail
dan ustadzah Yuni Isnaini Barokah yang senantiasa bersabar membimbing kami
dalam menghafalkan disetiap ayat-ayat al qur’an. Kita bebas dalam memilih hari
senin-jum’at satu kali dalam seminggu atau lebih dari itu. Meski kami menghafal
dalam ruangan yang tidak begitu luas tetapi semakin bermakna dengan apa yang
kita hafalkan. Tekad serta kemauan yang keras itulah modal utama dalam
menghafalkan disetiap ayat-ayatNya. Bersama teman-teman seperjuangan kita
mewarnai waktu dengan menghafal al qur’an dirumah tahfidz atsaani.
Dalam peribahasa arab mengatakan “al waqtu kassaif in lam taqtoqhu
qoto’ahu” artinya waktu itu ibarat pedang yang jika kita tidak menebasnya maka
kita akan tertebas, karena ia terus berjalan apabila kita berhenti maka kita
yang akan tertinggal. Memanfaatkan waktu untuk mencari bekal dunia maupun
akhirat mengisi waktu-waktu luang untuk membaca buku atau menghafalkan al
qur’an.
Ketika al qur’an itu merupakan pedoman hidup manusia dimuka bumi
lalu jika kita tidak memahami bagaimana kita akan tau arah tujuan hidup kita?
Menghafal al qur’an..
Jika
kita bayangkan mungkin hal itu sangat sulit dan berat. Padahal dalam al qur’an
surat al qomar ayat 17 dijelaskan
لَقَدْ يَسَّرْنَا
الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ
Bahwasannya Allah telah memudahkan al qur’an itu untuk dipelajari, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?
Merasakan manisnya iman..
ketika membaca al qur’an hanya mengejar target rasanya akan berbeda
dengan kita membaca al qur’an karena butuh, karena membaca dan menghafalnya
dapat menutrisi hati kita yang mungkin sedang semakin mengering, karena
menghafalkan dan mempelajarinya akan membuat kita semakin tau makna dan artinya
sehinnga menjadikan kita semakin mencintaiNya.
9. Arifah Septiana Utami (Guru)
Awalnya
saya tidak suka dengan aktivitas menghafal. Kalau boleh jujur, saya pingin
hafal 30 juz dalam al Qur’an. Tapi kalau disuruh menghafal rasanya beraaat
sekaliii.Selalu ada alasan untuk tidak menghafalnya. Mungkin karena saya merasa
sulit sekali untuk menghafal waktu itu, karena untuk mengingat satu ayat saja
dan mengingatnya dalam jangka panjang itu sangat sulit, bagi saya waktu itu.
Tapi
setelah bergabung dengan rumah tahfizh Ats Tsaani saya sedikit demi sedikit
mulai senang menghafal.Walaupun dengan susah payah untuk menghafal tapi saya
merasakan betul nikmatnya setelah kita berhasil menghafal atau mengingat satu
ayat yang telah dihafal.
Di
rumah tahfizh ats Tsaani pula saya dapat metode agar senang dan mudah untuk
menghafal al Qur’an. Di sana saya mendapat motivasi untuk terus memuroja’ah
hafalan saya. Dengan muroja’ah ini ayat yang sudah saya hafal tidak hilang
lagi.
Saya
bersyukur kepada Allah SWT karena telah memberi wadah bagi saya untuk belajar
menghafal al Qur’an. Harapannya rumah tahfizh ats Tsaani bisa terus exist dan
banyak peminatnya. Aamiin.
Ada
lagi, semoga melahirkan generasi-generasi penghafal al Qur’an. Aamiin.
10. Rahmawati Nurviana (Mahasiswi Lughoh Ma’had Abu Bakar As Sidiq
Surakarta)
Nama saya Rahmawati Nurviana.
Saya seorang mahasiswi di ma’had. Kesan pertama ketika perdana ikut tahfizh di
Rumah Tahfizh Ats Tsaani saat acara tasmi’ , begitu kental akan ukhuwah. Tidak
terbayang sebelumnya yang ikut ada 21 orang. Dapat tambahan hafalan plus dapat
tambahan teman.
Motivasi ikut tahfizh berawal
dari acara TV yang menampilkan anak usia 5 tahun (Musa) tapi hafalannya hampir
30 juz. Rasanya itu tidak mungkin. Tapi itu benar adanya. Perasaan malu mulai
muncul dalam hati. Malu pada Allah, yang sudah memberi waktu sekian tahun untuk
hidup tapi saya sia-siakan. Malu pada anak usia 5 tahun tadi, karena usia saya
yang menginjak 19 tahun juz 30 saja belum hafal, sedangkan musa sudah 30 juz.
Subhaanallaah.
Selain itu, saya ingin
menghadiahkan sebuah mahkota untuk orang tua kelak di akhirat. Insya Allah. Itu
harapan terbesar dalam hidup saya.
Pesan untuk rumah tahfizh,
semoga tetap istiqomah walaupun rintangan terus datang. Keep istiqomah.
“Hidup di dunia hanya sementara,
dan tidak ada kesempatan kedua, maka itu teruslah berkarya, untuk mencetak
pahala sebanyak-banyaknya, salah satunya yaitu dengan hafal al Qur’an.”
11.
Erwi
Rochma P (Perawat di RS Ortopedi)
Alhamdulillaah….selama bergabung
dengan rumah tahfizh Ats Tsaani, banyak kesan yang menyenangkan, ustadzah yang
sabar, meskipun saya berkali-kali tidak masuk/setor hafalan, ustadzah tetap
sabar. Teman-teman yang bersahabat juga saya dapatkan, meskipun jarang bertemu
(mungkin karena saya sering ijin ya, he…he..). Belajar di Ats Tsaani juga murah
meriah, biaya tidak jadi masalah utama, seikhlasnya.
12. Qosiroh Tarfi’in (Mahasiswi Lughoh Ma’had Abu Bakar As
Sidiq Surakarta)
Nama saya Qosiroh Tarfi’in, saya
suka menghafal surat-surat dalam al Qur’an setelah mendengar murottal yang
membuat hati saya tenang dan nyaman.
Awalnya saya menghafalkan
sendiri dengan cara mendengarkan dan membaca surat yang akan saya hafalkan.
Setelah waktu berjalan cukup lama, saya merasa bosan dalam menghafal, karena
setiap surat yang kuhafalkan dan saat aku menghafal surat berikutnya, hafalan
yang sebelumnya menjadi berantakan. Mungkin saat itu semangatku hilang, sampai
akhirnya ada salah satu temanku yang menyarankan aku untuk ikut bimbingan
tahfizh.
Disitulah saya mengenal Rumah
Tahfizh Ats Tsaani. Sekarang semangatku untuk menghafal al Qur’an bertambah
lagi. Karena selain bisa mengoreksi diri dari kesalahan saat membaca dan
menghafal, di Rumah Tahfizh Ats Tsaani, di saat kita ingin menambah hafalan,
sebelumnya kita harus memuroja’ah hafalan-hafalan sebelumnya yang sudah kita
hafal. Karena dengan itukita bisa menambah hafalan dan hafalan kita yang
sebelumnya tidak hilang begitu saja. Rumah Tahfizh Ats Tsaani memotivasiku
untuk selalu membuatku terus menghafal dan terus menghafal.
13.
Nurul Hidayah (Terapis)
Ana Ibu Nurul, usia 40 tahun.
Banyak orang mengatakan usia bukan penghalang untuk menghafal al Qur’an. Ana
pun ikut berproses untuk membuktikannya. Selain itu, keinginan untuk
mendapatkan syafaa’at al qur’an di hari akhir menjadi pendorong yang kuat untuk
menghafal al Qur’an. Ana pun bergabung dengan rumah tahfizh Ats Tsaani.
Alasan ana memilih rumah tahfizh
Ats Tsaani adalah pertimbangan (1) jarak. Posisi Rumah Tahfizh Ats Tsaani di
lokasi yang strategis, dekat dengan jalan raya dan dekat dengan rumah ana. Ana
membutuhkan kontuinitas untuk mengikat hafalan, jadi jarak tempuh menjadi
perhatian ana. (2) kesesuaian waktu setoran. Sebagai ibu rumah tangga, di pagi
apa sore hari tentunya repot, mengantar dan menemani anak pulang sekolah. Maka
setoran yang agak siang ini, sekitar jam 8 lebih sampai dhuhur adalah sangat
pas buat ana.
Walaupun ana bukan termasuk
orang yang berhafalan lancar, bergabung di sini Insya Allah pelan dan pasti
hafalan akan bertambah. Setiap setoran baru pasti diikuti dengan murojaah. Tak
lupa metode tahsin dan kaidah tajwid selalu diterapkan.
Suasana di sini penuh kekeluargaan,
teman-teman yang muda belia, dengan bacaan lagu yang beragam senantiasa
menambah kita untuk semangat. Marilah mulai bergabung di semester ini dan
temukan rahasia sehat dan kembali muda dengan menghafal al Qur’an.