Maklumat

Bismillaahirrahmaanirrahiim. Assalaamu'alaikum Wr. Wb.

Sekedar informasi bahwa blog ini kami buat sebagai sarana penunjang proses belajar mengajar tahfizh di rumah tahfizh Ats Tsaani sekaligus media informasi dan perekat hubungan kami dengan seluruh santri pada khususnya dan ummat Islam pada umumnya. Seluruh artikel yang ada dimaksudkan untuk berbagi ilmu sehingga diperbolehkan untuk copas asal menyebutkan sumbernya dan tidak untuk komersial. Harap maklum. Wassalaamu'alaikum Wr.Wb.

Rabu, 25 Desember 2013

URGENSI RESTU ORANG TUA DALAM MENGHAFAL AL QUR’AN

URGENSI RESTU ORANG TUA DALAM  
MENGHAFAL AL QUR’AN

            Orang tua adalah sosok manusia yang sangat berjasa dalam kehidupan kita. Bagaimana tidak? Si Ibu telah mengandung, melahirkan, merawat, mendidik, dan membesarkan kita dengan penuh kasih sayang. Sedangkan si Ayah telah bekerja keras membanting tulang, mengorbankan waktu dan tenaga demi menghidupi dan mencukupi segala kebutuhan kita. Pengorbanan mereka sungguh luar biasa!
            Karena itu, tiada yang pantas kita lakukan kecuali berusaha membalas jasa-jasa mereka walaupun kita sadar bahwa balasan kita tak akan pernah sepadan dengan pengorbanan mereka . Dan salah satu wujud bakti atau balas jasa kita pada orang tua adalah senantiasa meminta restu atau ridha orang tua atas setiap kebaikan atau pun usaha yang kita lakukan termasuk dalam menghafal al Qur’an.
            Mengapa kita harus meminta restu orang tua dalam menghafal al Qur’an? Apa urgensinya?
            Ada beberapa urgensi meminta restu orang tua dalam menghafal al Qur’an , antara lain :
1.      Memberikan ketentraman pada orang tua karena tahu bahwa anaknya tetap dalam kebaikan. Apalagi menghafal al Qur’an memberikan efek pahala bagi orang tuanya di akhirat nanti. Rasulullaah SAW bersabda :

“Siapa yang membaca Al -Quran, mempelajarinya dan mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari Kiamat, cahayanya seperti cahaya matahari, kedua orang tuanya dipakaikan dua jubah (kemuliaan), yang tidak pernah didapatkan di dunia, keduanya bertanya: mengapa kami dipakaikan jubah ini: dijawab: “karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al Quran”. (HR. Al Hakim)

2.      Mempermudah jalan kita dalam menghafal al Qur’an.
Jalan tahfizh adalah jalan yang berat namun ringan. Berat karena ini adalah perjanjian kita kepada Allah SWT untuk menjaga ayat-ayat suciNya hingga akhir hayat kita. Dan dalam upaya penjagaan ini kita akan menghadapi berbagai ujian yang beraneka ragam termasuk rasa bosan ataupun malas. Sedangkan dianggap ringan karena pada hakikatnya kita semua mampu menghafal ayat-ayat suci al Qur’an asalkan rajin untuk mengulang-ulangnya.
Agar jalan kita dalam menghafal al Qur’an ini dipermudah oleh Allah SWT dan dapat istiqomah hingga akhir hayat maka ada dua jalan yang bisa kita tempuh, yaitu :
a.       Meminta orang tua untuk mendo’akan kita agar dipermudah jalan tahfizh kita. Hal ini penting karena do’a orang tua untuk anaknya diijabahi (dikabulkan) Allah SWT.
b.      Senantiasa berdo’a kepada Allah SWT agar senantiasa istiqomah di jalan tahfizh. Dan dalam berdo’a ini kita bisa bertawasul dengan amal sholeh yaitu birrul walidain.

3.      Mendapatkan keridhaan Allah.
Hadits Rasulullaah SAW,
َوَعَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ عُمَرَ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا-, عَنْ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: رِضَا اَللَّهِ فِي رِضَا اَلْوَالِدَيْنِ, وَسَخَطُ اَللَّهِ فِي سَخَطِ اَلْوَالِدَيْنِ
أَخْرَجَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ, وَصَحَّحَهُ اِبْنُ حِبَّانَ وَالْحَاكِمُ)

“Dari Abdullah Ibnu Amar al-’Ash Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Keridloan Allah tergantung kepada keridloan orang tua dan kemurkaan Allah tergantung kepada kemurkaan orang tua.” Riwayat Tirmidzi. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban dan Hakim.”

4.      Hati kita menjadi tentram karena mendapat restu dan dukungan orang tua. Dengan demikian kita bisa konsentrasi dalam menghafal al Qur’an.

Namun diakui tidak semua orang tua mau memberi restu pada anaknya dalam menghafal al Qur’an. Hal ini disebabkan karena :
1.      Dangkalnya pemahaman orang tua akan urgensi menghafal al Qur’an dan merasa aktivitas menghafal al Qur’an tidak ada manfaatnya, hanya menguras energi, fikiran, dan waktu.
2.      Adanya rasa ketakutan kalau anaknya menghafal al Qur’an jadi malas bekerja karena sibuk menjaga hafalan.

Lalu bagaimana sikap kita jika orang tua tidak merestui kita menghafal al Qur’an? Haruskah cita-cita mulia kita kandas karena tidak ada restu dari orang tua?
Paling tidak ada beberapa langkah yang bisa kita tempuh dalam menghadapi kasus ini, yaitu:
1.      Kita tetap menghafal al Qur’an dengan cara diam-diam sampai orang tua memberi restu.
2.     Senantiasa berdo’a  kepada Allah SWT agar Allah SWT membukakan pintu hati dan pintu hidayah kepada orang tua kita sehingga mau memberi restu kepada kita.
3.   Tetap berbuat baik kepada orang tua, kalau bisa tunjukkan semangat kita dalam bekerja dan mengejar prestasi. Dengan demikian diharapkan hati orang tua akan luluh dan tidak ada lagi prasangka buruk terhadap para penghafal al Qur’an.
4.      Melibatkan pihak ketiga untuk menasihati orang tua.


Semoga bermanfaat. Amiin!


Ditulis oleh: Yuni Isnaini Barokah, S.Sos

Sabtu, 21 Desember 2013

Mengenal Rumah Tahfizh Ats Tsaani

RUMAH TAHFIZH ATS TSAANI


Slogan
          One Day One Ayah, One Home One Hafizh!


Motto
          Bersama al Qur’an membangun kejayaan ummat.


Visi
1.      Menjadi wadah pembinaan ummat menuju generasi Qur’ani.


Misi
1.      Mengembalikan kesadaran masyarakat akan pentingnya mempelajari al Qur’an.
2.      Menanamkan nilai-nilai islami melalui tahsin, tahfizh, dan pemahaman al Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
3.      Mencetak hafizh hafizhah dari berbagai kalangan.


Target

a.    Target Jangka Pendek (1-5 Tahun ke depan)

1.      Membuka kelas tahfizh khusus akhwat/muslimah.
2.      Tiap tahun mampu mencetak satu orang hafizhah yang hafal  al Qur’an 30 juz dan sepuluh hafizhah yang hafal al Qur’an 3 juz.
3.      Membangun social media (media sosial) seperti : website, blog, dan facebook.
4.      Menerbitkan buku “Bunga Rampai Tahfizh al Qur’an”.

b.    Target Jangka Menengah (5-10 Tahun ke depan)

1.      Melayani pengajaran tahfizh melalui media online sehingga memungkinkan orang yang sangat sibuk tetap dapat belajar tahfizh.
2.      Menambah staff pengajar dan membuka beberapa cabang serta berupaya untuk bisa membuka kelas lebih banyak dengan pilihan waktu yang lebih beragam.
3.      Membuka program tahfizh untuk anak-anak.

c.     Target Jangka Panjang (10-20 Tahun ke depan)

1.      Memiliki gedung sendiri.
2.      Membuka kelas tahfizh untuk ikhwan.


Selasa, 17 Desember 2013

Apa saja problematika yang muncul saat tahfizh?

Apa saja problematika yang muncul saat tahfizh?

1)      Jenuh menghafal.
Ketahuilah bahwasanya jalan menuju surga itu penuh dengan duri, dan orang-orang pilihan Allah adalah mereka yang mampu menghadapi cobaan semacam ini. Ketika seseorang mengalami rasa jenuh dalam menghafal maka yang perlu dia lakukan :
  • Jangan menambah hafalan untuk sementara, cukup lakukan muroja’ah dari hafalan-hafalan yang sebelumnya. Atau kalau memang tidak bisa memuroja’ah Karena pikiran terlalu penat cukup dengan membacanya saja, tetapi jangan sampai meninggalkan al-quran secara total.
  • baca dan tadabburi tafsir dari ayat-ayat yang telah dihafal atau yang ingin dihafal agar kita mengerti makna dari ayat-ayat tersebut sehingga timbul rasa cinta untuk menghafalnya, sebagaimana kata pepatah: “tak kenal maka tak sayang”.
  • Salah satu cara untuk mengembalikan semangat adalah dengan membaca kisah-kisah orang-orang pilihan seperti kisah para mujahidin pada zaman dahulu, ulama, raja-raja, dan lain-lain. tetapi jangan membaca buku yang tidak bermanfaat seperti majalah gossip, komik-komik, dan yang sejenisnya karena bacaan-bacaan seperti itu bukannya menambah semangat tetapi justru melalaikan, dan mengajak kita untuk berkhayal.
  • Dengarkan bacaan al-quran dari orang-orang yang dikaruniai suara yang merdu, baik itu melalui kaset murotal atau sesama teman.
  • Ketahuilah bahwa ayat yang paling sulit dihafal ketika kita berhasil menguasainya akan menjadi ayat yang paling sulit untuk hilang dari ingatan,karena dia akan mengeluarkan usaha yang sangat keras, begitu pula sebaliknya, ayat yang mudah untuk dihafal biasanya akan mudah hilang (orang bilang “easy come easy go”).
  • Lakukan sedikit olahraga.
  • Setelah pulih lanjutkan kembali hafalan.
2)      Cinta dunia dan terlalu sibuk dengannya.

“Sekali-kali janganlah demikian. Sebenarnya kamu (hai manusia) mencintai kehidupan dunia,  Dan meninggalkan (kehidupan) akhirat.(Qs. 75:20,21). Solusi : jadikanlah dunia di tanganmu bukan di hatimu, sadarilah akhirat itu jauh lebih indah dari kenikmatan dunia. Kurangilah aktivitas laghwu dan senantiasa berdo’a agar terlindung dari hal yang demikian.

3)      Tidak sabar, malas, dan berputus asa.
Solusi : mengingat urgensi dan keutamaan menghafal al Qur’an.

4)      Cepat mengantuk saat menghafal.
Solusi : Hindari makan terlalu banyak, berwudhu kemudian shalat 2 rekaat, berpindah tempat menghafal, beraktifitas sejenak untuk menghilangkan kantuk seperti menyapu, jalan-jalan, dan lain sebagainya.

5)      Sulit konsentrasi saat muroja’ah.
Solusi : Lakukanlah shalat sunnah muthlaq, dan lakukanlah muroja’ah di dalamnya, dengan suara jahar (untuk malam hari), atau suara sirr (untuk siang hari).

6)      Kesulitan saat bertemu dengan ayat mutasyabihah.
Solusi : Cari titik perbedaan, tandai dengan stabilo, kemudian diingat-ingat letak perbedaannya.

7)      Ingin cepat nikah.
Godaan terbesar dalam tahfizh adalah keinginan untuk menikah. Kebanyakan para calon huffazh berguguran di jalan tahfizh karena masalah ini. Bagi yang ikut program khusus tahfizh maka hendaknya bertahan dari keinginan yang demikian dengan jalan ghadhul bashar, menjauhi segala rangsangan dalam bentuk apapun, serta memperkuat azamnya kembali untuk jadi seorang hafizh Qur’an.

8)      Mudah lupa.
Solusi : Mengulang-ulang sebanyak mungkin saat menambah hafalan minimal 40 kali dan senantiasa menjaganya denganmurojaah setiap waktu.

9)      Tidak mampu membaca dengan baik.
Solusi : Ikut program tahsin atau cari pembimbing untuk membetulkan bacaaan.

10)  Tidak mampu mengatur waktu.

Solusi : Buat jadwal harian dan target hafalan dan muroja’ah perhari. Jika sangat sibuk bisa muroja’ah sambil beraktivitas yang tidak membutuhkan konsentrasi seperti menyapu, mencuci, dan lain sebagainya.

Copyright @ 2013 Ats Tsaani .