Agar Istiqomah di Jalan Tahfizh
Oleh
: Yuni Isnaini Barokah
Alhamdulillaah,
ada sesuatu yang patut disyukuri akhir-akhir ini adalah semakin meningkatnya
kesadaran ummat Islam khususnya di Indonesia akan pentingnya menghafal al
Qur’an. Hal ini dapat dilihat dari semakin banyak berdirinya
Pesantren,Ma’had atau Rumah Tahfizh
serta sekolah-sekolah berbasis Islam
Terpadu yang menjadikan tahfizh sebagai program unggulannya.
Namun demikian, ada sesuatu yang harus
kita waspadai yaitu falsafah orang jawa
“Obor Blarak” yang artinya mung sawetara wae (semangat yang hanya menyala
sebentar saja). Kalau secara kelembagaan mungkin kita bisa optimis semangat itu akan
senantiasa ada, namun kalau dilihat secara personal maka itulah yang sangat
kita khawatirkan. Betapa banyak orang yang pernah hafal al Qur’an sekian juz atau bahkan tiga puluh juz namun setelah
beberapa lama hafalan itu sedikit demi sedikit berkurang atau bahkan hilang tak
berbekas. Na’uudzubillaahi min dzaalik.
Perlu diketahui bahwa karakterisrik jalan tahfizh hampir sama dengan karakteristik
jalan dakwah, yaitu : jalannya panjang, penuh onak duri (ujian) yang menanti,
sedikit orang yang mau menempuhnya, namun banyak sekali pahala atau keutamaan
yang akan didapat. Karena jalannya panjang dan banyak ujiannya, maka sering kali
muncul berbagai problematika dalam menghafal al Qur’an antara lain :
1.
Jenuh menghafal.
Ketahuilah bahwasanya jalan menuju surga itu
penuh dengan duri, dan orang-orang pilihan Allah adalah mereka yang mampu menghadapi cobaan semacam ini. Ketika
seseorang mengalami rasa jenuh dalam menghafal maka yang perlu dia lakukan :
- Jangan menambah hafalan untuk sementara, cukup lakukan muroja’ah dari hafalan-hafalan yang sebelumnya. Atau kalau memang tidak bisa memuroja’ah Karena pikiran terlalu penat cukup dengan membacanya saja, tetapi jangan sampai meninggalkan al-quran secara total.
- baca dan tadabburi tafsir dari ayat-ayat yang telah dihafal atau yang ingin dihafal agar kita mengerti makna dari ayat-ayat tersebut sehingga timbul rasa cinta untuk menghafalnya, sebagaimana kata pepatah: “tak kenal maka tak sayang”.
- Salah satu cara untuk mengembalikan semangat adalah dengan membaca kisah-kisah orang-orang pilihan seperti kisah para mujahidin pada zaman dahulu, ulama, raja-raja, dan lain-lain. tetapi jangan membaca buku yang tidak bermanfaat seperti majalah gossip, komik-komik, dan yang sejenisnya karena bacaan-bacaan seperti itu bukannya menambah semangat tetapi justru melalaikan, dan mengajak kita untuk berkhayal.
- Dengarkan bacaan al-quran dari orang-orang yang dikaruniai suara yang merdu, baik itu melalui kaset murotal atau sesama teman.
- Ketahuilah bahwa ayat yang paling sulit dihafal ketika kita berhasil menguasainya akan menjadi ayat yang paling sulit untuk hilang dari ingatan,karena dia akan mengeluarkan usaha yang sangat keras, begitu pula sebaliknya, ayat yang mudah untuk dihafal biasanya akan mudah hilang (orang bilang “easy come easy go”).
- Lakukan sedikit olahraga.
- Setelah pulih lanjutkan kembali hafalan.
2.
Cinta dunia dan terlalu sibuk dengannya.
“Sekali-kali
janganlah demikian. Sebenarnya kamu (hai manusia) mencintai kehidupan
dunia, Dan meninggalkan (kehidupan)
akhirat.”(Qs. 75:20,21).
Solusi : jadikanlah dunia di
tanganmu bukan di hatimu, sadarilah akhirat itu jauh lebih indah dari
kenikmatan dunia. Kurangilah aktivitas laghwu dan senantiasa berdo’a agar
terlindung dari hal yang demikian.
3.
Tidak sabar, malas, dan berputus asa.
Solusi : mengingat urgensi dan
keutamaan menghafal al Qur’an.
4.
Cepat mengantuk saat menghafal.
Solusi : Hindari makan terlalu
banyak, berwudhu kemudian shalat 2 rekaat, berpindah tempat menghafal,
beraktifitas sejenak untuk menghilangkan kantuk seperti menyapu, jalan-jalan,
dan lain sebagainya.
5.
Sulit konsentrasi saat muroja’ah.
Solusi : kosongkan pikiran dari
hal-hal yang tidak bermanfaat. Cari waktu dan tempat yang tepat untuk
muroja’ah.
6.
Kesulitan saat bertemu dengan ayat mutasyabihah.
Solusi : Cari titik perbedaan,
tandai dengan stabilo, kemudian diingat-ingat letak perbedaannya.
7.
Ingin cepat nikah.
Godaan terbesar dalam tahfizh adalah keinginan untuk menikah. Kebanyakan
para calon huffazh berguguran di jalan
tahfizh karena masalah ini. Bagi yang ikut program khusus tahfizh maka
hendaknya bertahan dari keinginan yang demikian dengan jalan ghadhul bashar,
menjauhi segala rangsangan dalam bentuk apapun, serta memperkuat azamnya kembali
untuk jadi seorang hafizh Qur’an.
8.
Mudah lupa.
Solusi : Mengulang-ulang sebanyak
mungkin saat menambah hafalan minimal 40 kali dan senantiasa menjaganya
denganmurojaah setiap waktu.
9.
Tidak mampu membaca dengan baik.
Solusi : Ikut program tahsin atau
cari pembimbing untuk membetulkan bacaaan.
10. Tidak
mampu mengatur waktu.
Solusi : Buat jadwal harian dan
target hafalan dan muroja’ah perhari. Jika sangat sibuk bisa muroja’ah sambil
beraktivitas yang tidak membutuhkan konsentrasi seperti menyapu, mencuci, dan lain
sebagainya.
11. Banyaknya
dosa dan maksiat.
Solusi:
Segera bertaubat dan hindari segala bentuk kemaksiatan sekecil apapun. Ingatlah! Sesungguhnya dosa dan maksiat akan
melupakan hamba terhadap Al-Qur’an dan terhadap dirinya sendiri. Hatinya akan
buta dari dzikrullah.
Imam
asy-Syafi’i berkata:
Saya mengadu kepada Waqi’ buruknya hafalanku,
maka dia menasihatiku agar meninggalkan maksiat.
Dan ia mengabarkan kepadaku bahwa ilmu adalah cahaya,
dan cahaya Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak diberikan kepada pelaku maksiat.
12. Berambisi
menghafal ayat-ayat yang banyak dalam waktu yang singkat dan pindah ke hafalan
lain sebelum kokohnya hafalan yang lama.
Ini
sering dilakukan para santri. Mereka tidak sabar untuk mengulang-ulang
hafalannya dan terlalu terburu-buru untuk menambah hafalan baru. Nanti kita
sendiri yang akan merasakan akibatnya yakni jadi berat saat muroja’ah dan
seandainya kita telah selesai menyetorkan hafalan Qur’an, kita tidak mampu
menghadirkannya setiap saat. Solusinya : bersabarlah dalam mengulang-ulang ayat
baru. Sedikit penambahan hafalan tapi hafalannya lancar jauh lebih baik dari
pada banyak hafalan barunya tapi tidak lancar atau banyak salahnya.
Agar kita mampu istiqomah dijalan tahfizh ini maka ada beberapa hal yang harus kita lakukan :
1.
Meluruskan niat.
Meluruskan niat adalah hal yang
terpenting dari setiap aktivitas yang kita lakukan. Sebagaimana sabda
Rasulullaah SAW dalam hadits arba’in yang pertama :
“Segala sesuatu
tergantung pada niatnya…….”
Jika kita menghafalkan al Qur’an
maka niatkanlah untuk mencari ridho Allah SWT semata. Jangan karena ingin
dianggap suci, pintar, disanjung, dan lain sejenisnya karena semuanya itu akan
sia-sia belaka.
2.
Menguatkan azam.
Untuk menghadapi segala ujian dan
rintangan dalam menghafalkan al Qur’an maka diperlukan azam atau tekad yang kuat sehingga tidak mudah menyerah
atau berputus asa. Azam yang kuat bisa diperoleh jika kita mengetahui
keutamaan-keutamaan dalam menghafal al Qur’an baik di dunia maupun di akhirat.
Keutamaan dalam menghafal al Qur’an ini telah kami sampaikan dalam edisi
pertama.
3.
Mencari metode yang tepat.
Setiap orang mempunyai kecenderungan
sendiri-sendiri dalam menentukan metode belajar yang tepat baginya. Ada yang
mudah menghafal dengan membacanya berulang-ulang, ada yang lebih mudah hafal
dengan mendengarkan murottal, dan ada yang lebih mudah lagi dengan menuliskan ayat-ayat yang akan
dihafal. Maka pilihlah metode yang tepat sesuai dengan kecenderungan Anda.
4.
Selalu berguru dan tergabung dalam lembaga tahfizh.
Jangan terlalu percaya diri bahwa Anda mampu menghafal secara mandiri. Sefasih apapun Anda
dalam membaca al Qur’an dan sekuat apapun daya ingat Anda dalam
menghafalkannya, Anda tetap perlu menyetorkan hafalan Anda pada seorang guru.
Hal ini sangat penting karena untuk menghindari adanya kesalahan atau ayat-ayat
yang terlewatkan. selain itu Anda juga harus senantiasa tergabung dalam lembaga
tahfizh atau komunitas para penghafal al Qur’an. Hal ini sangat penting untuk
menjaga semangat dalam menghafalkan al Qur’an dan untuk mendisiplinkan diri.
5.
Tetap muroja’ah dalam kondisi apapun.
Sesibuk apapun Anda, semalas atau
secapek apapun Anda, Anda harus istiqomah dalam muroja’ah harian. Sehari saja Anda tidak muroja’ah maka hafalan mulai terasa berat apalagi jika meninggalkan muroja’ah selama beberapa
hari tentu hafalan terasa lebih berat lagi.
6.
Senantiasa berdo’a.
Allah SWT telah berfirman dalam Qs.
Al Baqoroh ayat 186 :
“Dan apabila
hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya aku
adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang-orang yang berdo’a apabila ia
memohon kepadaku,……”
Karena itu, hendaklah kita
senantiasa berdo’a kepada Allah agar dipermudah dalam menghafalkan al Qur’an,
diberi hafalan yang dhabit/lancar, dan diberi kemampuan untuk menjaganya hingga
akhir hayat kita. Aamiin.
Itulah beberapa kiat agar kita bisa
istiqomah dijalan tahfizh. Semoga kita bisa mengamalkannya.
(Dari berbagai sumber)

8 komentar :
Izin save
Mantap kak
Mantap kak
Assalamu'alaikum masya Allah izin save kak
Masyaallah semoga Istiqomah aamiin
MasyaAllah syukron ilmunya
Trimakasi banyak, saudara seiman ..
Mantap us yuni..
Posting Komentar