URGENSI RESTU ORANG TUA DALAM
MENGHAFAL AL QUR’AN
Orang tua adalah
sosok manusia yang sangat berjasa dalam kehidupan kita. Bagaimana tidak? Si Ibu
telah mengandung, melahirkan, merawat, mendidik, dan membesarkan kita dengan
penuh kasih sayang. Sedangkan si Ayah telah bekerja keras membanting tulang,
mengorbankan waktu dan tenaga demi menghidupi dan mencukupi segala kebutuhan
kita. Pengorbanan mereka sungguh luar biasa!
Karena itu, tiada
yang pantas kita lakukan kecuali berusaha membalas jasa-jasa mereka walaupun
kita sadar bahwa balasan kita tak akan pernah sepadan dengan pengorbanan mereka
. Dan salah satu wujud bakti atau balas jasa kita pada orang tua adalah
senantiasa meminta restu atau ridha orang tua atas setiap kebaikan atau pun
usaha yang kita lakukan termasuk dalam menghafal al Qur’an.
Mengapa kita harus
meminta restu orang tua dalam menghafal al Qur’an? Apa urgensinya?
Ada beberapa urgensi
meminta restu orang tua dalam menghafal al Qur’an , antara lain :
1.
Memberikan
ketentraman pada orang tua karena tahu bahwa anaknya tetap dalam kebaikan.
Apalagi menghafal al Qur’an memberikan efek pahala bagi orang tuanya di akhirat
nanti. Rasulullaah SAW bersabda :
“Siapa
yang membaca Al -Quran, mempelajarinya dan mengamalkannya, maka dipakaikan
mahkota dari cahaya pada hari Kiamat, cahayanya seperti cahaya matahari, kedua
orang tuanya dipakaikan dua jubah (kemuliaan), yang tidak pernah didapatkan di
dunia, keduanya bertanya: mengapa kami dipakaikan jubah ini: dijawab: “karena
kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al Quran”. (HR. Al
Hakim)
2.
Mempermudah
jalan kita dalam menghafal al Qur’an.
Jalan tahfizh adalah jalan yang
berat namun ringan. Berat karena ini adalah perjanjian kita kepada Allah SWT
untuk menjaga ayat-ayat suciNya hingga akhir hayat kita. Dan dalam upaya
penjagaan ini kita akan menghadapi berbagai ujian yang beraneka ragam termasuk
rasa bosan ataupun malas. Sedangkan dianggap ringan karena pada hakikatnya kita
semua mampu menghafal ayat-ayat suci al Qur’an asalkan rajin untuk
mengulang-ulangnya.
Agar jalan kita dalam menghafal al
Qur’an ini dipermudah oleh Allah SWT dan dapat istiqomah hingga akhir hayat
maka ada dua jalan yang bisa kita tempuh, yaitu :
a.
Meminta
orang tua untuk mendo’akan kita agar dipermudah jalan tahfizh kita. Hal ini
penting karena do’a orang tua untuk anaknya diijabahi (dikabulkan) Allah SWT.
b.
Senantiasa
berdo’a kepada Allah SWT agar senantiasa istiqomah di jalan tahfizh. Dan dalam
berdo’a ini kita bisa bertawasul dengan amal sholeh yaitu birrul walidain.
3.
Mendapatkan
keridhaan Allah.
Hadits Rasulullaah SAW,
َوَعَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ عُمَرَ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا-,
عَنْ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: رِضَا اَللَّهِ فِي رِضَا
اَلْوَالِدَيْنِ, وَسَخَطُ اَللَّهِ فِي سَخَطِ اَلْوَالِدَيْنِ
( أَخْرَجَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ,
وَصَحَّحَهُ اِبْنُ حِبَّانَ وَالْحَاكِمُ)
“Dari Abdullah Ibnu Amar
al-’Ash Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
“Keridloan Allah tergantung kepada keridloan orang tua dan kemurkaan Allah
tergantung kepada kemurkaan orang tua.” Riwayat Tirmidzi. Hadits shahih menurut
Ibnu Hibban dan Hakim.”
4.
Hati
kita menjadi tentram karena mendapat restu dan dukungan orang tua. Dengan
demikian kita bisa konsentrasi dalam menghafal al Qur’an.
Namun diakui tidak semua orang tua mau memberi restu pada anaknya dalam
menghafal al Qur’an. Hal ini disebabkan karena :
1.
Dangkalnya
pemahaman orang tua akan urgensi menghafal al Qur’an dan merasa aktivitas
menghafal al Qur’an tidak ada manfaatnya, hanya menguras energi, fikiran, dan
waktu.
2.
Adanya
rasa ketakutan kalau anaknya menghafal al Qur’an jadi malas bekerja karena
sibuk menjaga hafalan.
Lalu
bagaimana sikap kita jika orang tua tidak merestui kita menghafal al Qur’an? Haruskah
cita-cita mulia kita kandas karena tidak ada restu dari orang tua?
Paling
tidak ada beberapa langkah yang bisa kita tempuh dalam menghadapi kasus ini,
yaitu:
1.
Kita
tetap menghafal al Qur’an dengan cara diam-diam sampai orang tua memberi restu.
2. Senantiasa
berdo’a kepada Allah SWT agar Allah SWT
membukakan pintu hati dan pintu hidayah kepada orang tua kita sehingga mau
memberi restu kepada kita.
3. Tetap
berbuat baik kepada orang tua, kalau bisa tunjukkan semangat kita dalam bekerja
dan mengejar prestasi. Dengan demikian diharapkan hati orang tua akan luluh dan
tidak ada lagi prasangka buruk terhadap para penghafal al Qur’an.
4.
Melibatkan
pihak ketiga untuk menasihati orang tua.
Semoga
bermanfaat. Amiin!
Ditulis oleh: Yuni Isnaini Barokah, S.Sos

1 komentar :
masyaallah...
Posting Komentar